Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemulihan Ekonomi, Mendag Lutfi Fokus Perlancar Arus Barang

Mendag Muhammad Lutfi menjadikan kelancaran arus barang sebagai fokus utama dalam upaya pemulihan perekonomian domestik.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 27 Desember 2020  |  20:44 WIB
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat (AS).  - Istimewa
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat (AS). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memastikan akan menjamin kelancaran arus barang sebagai bagian dari upaya perbaikan perekonomian domestik. Hal ini akan menjadi fokus utamanya untuk menjaga kinerja perdagangan pada 2021.

Lutfi menjelaskan kelancaran arus barang menjadi hal yang penting karena akan memengaruhi keyakinan konsumen di Indonesia. Contoh, soal arus barang impor yang sekitar 66,7 persen di antaranya merupakan bahan baku atau penolong yang dipakai oleh industri nasional.

“Yang akan saya lakukan pertama adalah memastikan arus barang berjalan baik karena kita sedang memperbaiki domestik terlebih dahulu. Memastikan keyakinan masyarakat terhadap perdagangan penting sehingga terjadi consumer spending,” kata Lutfi kepada Bisnis.com, Minggu (27/12/2020).

Lutfi memberi contoh impor bahan baku atau penolong yang kontribusinya mencapai 66,7 persen terhadap total impor. Penurunan impor golongan barang ini dia sebut mempelihatkan potensi konsumsi domestik yang melemah karena selain digunakan untuk tujuan ekspor, impor bahan baku industri juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Konsumsi domestik menyumbang lebih dari 50 persen terhadap PDB, jadi aspek kelancaran arus barang perlu dipastikan untuk memastikan keyakinan konsumen membaik,” katanya.

Lutfi juga menjelaskan bahwa peran sektor perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya dilihat dari aspek pertumbuhan ekspor dan neraca yang surplus saja. Lebih dari itu, aspek impor tetap perlu diperhatikan.

Dia menjelaskan bahwa sumbangan ekspor dan impor terhadap total PDB masih berada di kisaran 33 sampai 34 persen atau berada di belakang konsumsi domestik yang lebih dari 50 persen. Menurutnya, untuk mencapai struktur ekonomi yang sehat, porsi ekspor dan impor harus lebih besar.

“Ekspor dan impor bukan seperti jungkat-jungkit, mereka harus sama-sama membesar,” imbuhnya.

Kelancaran arus barang memang menjadi salah satu isu yang menghambat sektor perdagangan selama pandemi. Sebagai contoh, Indonesia sempat menghadapi gangguan pasokan pangan akibat perizinan impor untuk sejumlah komoditas yang terkendala pada kuartal I 2020. Imbasnya, kenaikan harga pangan tak terhindari.

Hal serupa juga terjadi ketika masyarakat kesulitan mengakses masker dan pakaian medis saat awal pandemi karena keterbatasan bahan baku yang sebagian besar masih diimpor. Guna mengurai permasalahan ini, pemerintah pun memutuskan untuk mengambil sejumlah kebijakan relaksasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan logistik
Editor : Rio Sandy Pradana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top