Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PHK Diharapkan Tak Berlanjut, Pelaku Industri Sepatu Bidik Ekspor

Aprisindo berharap PHK terhadap 1.800 karyawan industri sepatu di Tangerang tak berlanjut. Namun, dia mengakui bahwa sebagai sektor berorientasi ekspor, sulit bagi industri sepatu untuk menghindari kebijakan efisiensi tenaga kerja.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 08 November 2020  |  19:25 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan sandal dan sepatu di PT Aggiomultimex, Sidoarjo, Jawa Timur./Antara - Umarul Faruq
Pekerja menyelesaikan pembuatan sandal dan sepatu di PT Aggiomultimex, Sidoarjo, Jawa Timur./Antara - Umarul Faruq

Bisnis.com, JAKARTA – Pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.800 pekerja pabrik sepatu di Tangerang, Banten, diharapkan tidak berlanjut menimpa lebih banyak tenaga kerja di industri tersebut.

Namun, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie mengemukakan bahwa diperlukan upaya ekstra bagi industri tersebut untuk menyelamatkan sekitar 900.000 tenaga kerja dari PHK.

Dia mengutarakan sebagai sektor berorientasi ekspor sulit bagi industri sepatu untuk menghindari kebijakan efisiensi tenaga kerja.

Tidak dapat dipungkiri, dampak krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 terhadap pasar ekspor global menjadi penyebab utama atas PHK yang dialami oleh sekitar 1.800 pekerja tersebut.

Firman mengungkapkan dampak pandemi Covid-19 terhadap ekspor global menurunkan permintaan di industri sepatu Tanah Air yang terindikasi dari realisasi pertumbuhan ekspor.

Dia menjelaskan target pertumbuhan ekspor untuk industri sepatu di Indonesia masih jauh dari patokan awal, yakni baru 7 persen pada September 2020, sedangkan target tahunan yang diestimasikan pada akhir 2019 lalu adalah lebih dari 13 persen.

Meski sampai dengan September 2020 kondisinya dikatakan jauh lebih baik dari periode Mei-Juli 2020, di mana belum ada order anyar yang masuk untuk pasar ekspor, situasi industri belum 100 persen pulih.

Adanya selisih yang cukup jomplang antara target tahunan dengan realisasi sampai dengan September dikatakan menyebabkan terjadinya overcapacity. Firman mengakui bahwa sebagai bagian industri padat karya, kondisi tersebut membuat beban industri untuk mengongkosi tenaga kerja sangat besar.

"Penurunan permintaan di industri sepatu tidak dapat dihindari. Maka dari itu, beberapa perusahaan di industri sepatu melakukan efisiensi," ujar Firman kepada Bisnis.

Celakanya, Firman menyebut PHK terhadap 1.800 pekerja di Kabupaten Tangerang merepresentasikan kondisi industri secara keseluruhan.

"Sebagai wilayah sentral untuk industri sepatu berorientasi ekspor di Tanah Air, mau tidak mau PHK yang terjadi di Tangerang, Banten, merepresentasi kondisi industri secara keseluruhan," ujar Firman.

Dia mengatakan tren itu cukup representatif untuk menggambarkan situasi industri tersebut di daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Dengan kata lain, dampak penurunan permintaan di pasar ekspor terhadap produk dari Tanah Air diperkirakan bakal parah terhadap pekerja-pekerja di industri sepatu di daerah-daerah tersebut jika tidak segera diatasi.

Meski demikian, realisasi pertumbuhan sebesar 7 persen dari sekitar 400 juta pasang sepatu yang diproduksi untuk keperluan ekspor, walaupun masih jauh dari target, dinilai menghadirkan optimisme bagi industri tersebut.

Firman mengatakan dalam waktu dekat industri sepatu masih memerlukan pasar ekspor sebagai sektor yang dikatakan menjadi faktor utama dalam penyerapan tenaga kerja.

"Maka saya pikir, pasar ekspor untuk komoditas sepatu yang sejauh ini masih bisa tumbuh tetap menjadi prioritas. Oleh karena itu, mau tidak mau menjaga agar industri sepatu dalam negeri tetap kompetitif di pasar ekspor harus menjadi dipertimbangkan oleh pemerintah," tutur Firman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alas kaki industri sepatu
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top