Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Strategi Perundingan Dagang Fokus ke Big Fish

Di tengah berkurangnya kepercayaan terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan sistem perdagangan multilateral, pemerintah menyatakan banyak negara yang kini lebih melirik kerja sama yang bersifat regional dan bilateral. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 06 November 2020  |  18:35 WIB
Strategi Perundingan Dagang Fokus ke Big Fish
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah menyiapkan strategi perundingan perdagangan khusus untuk menghadapi tantangan perdagangan internasional.

Perundingan bakal difokuskan pada mitra-mitra dengan ekonomi signifikan demi mendongkrak target peningkatan ekspor dan menarik investasi.

“Kalau berbicara mengenai peningkatan ekspor, menarik investasi, terutama dalam konteks perundingan, kita harus punya target yang jelas untuk menyelamatkan waktu. Jadi fokus ke big fish,” kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo dalam diskusi ‘New Normal dalam Perdagangan Internasional’ Jumat (6/11/2020).

Di tengah berkurangnya kepercayaan terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan sistem perdagangan multilateral, Iman mengatakan banyak negara yang kini lebih melirik kerja sama yang bersifat regional dan bilateral. 

Fokus pada mitra yang signifikan adalah salah satu siasat untuk menghadapi tantangan global ketika berbagai negara kian kompetitif, bahkan di antara negara dalam satu blok perdagangan.

“Mungkin negara-negara yang relatif kecil, penyerapan produk dan jasanya akan terbatas. Belum lagi jika negara lain sudah masuk seperti China dan Vietnam. Idealnya kita harus fokus pada fish,” lanjutnya.

Meski berfokus pada negara atau kawasan dengan ekonomi yang signifikan, Indonesia tak serta-merta mengesampingkan potensi dengan mitra nontradisional. Iman mengatakan sembari menjaga akses ke mitra tradisional, eksplorasi ke pasar nontradisional pun terus dilakukan.

“Selain itu utilisasi perjanjian yang telah ada terus ditingkatkan,” ujarnya.

Dia mengemukakan rata-rata utilisasi perjanjian perdagangan berkisar di angka 60-70 persen jika merujuk pada data penerbitan surat keterangan asal (SKA). Utilisasi diharapkan dapat terus meningkat seiring dengan keberadaan Free Trade Agreement (FTA) Center di sejumlah daerah.

Sementara itu, Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri berpandangan bahwa segala perjanjian perdagangan, baik yang telah disepakati maupun masih dalam pembahasan harus bisa dimanfaatkan tak hanya untuk kepentingan perdagangan semata.

Lebih dari itu, perjanjian dagang yang digarap Indonesia dan mitra harus bisa mengakomodasi kebutuhan untuk meningkatkan partisipasi dalam rantai pasok regional atau global, mengakomodasi perdagangan jasa serta untuk menarik investasi.

“Sebelumnya ada anggapan untuk relokasi basis produksi dari China. Tapi saya lihat lebih ke diversifikasi hub. Jadi jika dulu ada pertimbangan efisiensi yang utama, namun akan mulai dikesampingkan. Tapi tentu efisiensi ini tergantung pada apa yang ditawarkan hub tadi,” kata Yose.

Selain itu, dalam menghadapi persaingan geopolitik yang kian meruncing di kawasan seperti sentimen perdagangan antara China-Australia atau China-India, Yose mengatakan Indonesia bisa mengambil pendekatan sentralitas Asean untuk perdagangan dan konektivitas.

Hal ini bisa dicapai dengan memanfaatkan RCEP dan Asean Outlook on Indo-Pacific yang menggunakan konektivitas sebagai pilarnya. 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan internasional kesepakatan pemulihan ekonomi
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top