Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Target Bangun 15 Pabrik Gula Dinilai Sulit Tercapai

Target pemerintah untuk menambah 15 pabrik gula baru dimulai dari tahun ini hingga 2024 dinilai akan sulit tercapai. Sejumlah persoalan efisiensi hingga daya saing dalam investasi pabrik gula pun masih mengintai.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 16 September 2020  |  16:12 WIB
Pekerja mengangkut gula di Pabrik Gula Rendeng, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (10/6). - Antara/Yusuf Nugroho
Pekerja mengangkut gula di Pabrik Gula Rendeng, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (10/6). - Antara/Yusuf Nugroho

Bisnis.com, JAKARTA — Target pemerintah untuk menambah 15 pabrik gula baru dimulai dari tahun ini hingga 2024 dinilai akan sulit tercapai. Sejumlah persoalan efisiensi hingga daya saing dalam investasi pabrik gula pun masih mengintai.

Anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan Pusat Khudori mengatakan sampai saat ini biaya produksi gula, terutama produksi pabrik gula BUMN di Jawa masih mahal. Besar biaya produksi hampir dua kali lipat dari biaya produksi pabrik swasta, terutama di Lampung.

Khudori mengemukakan di negara produsen dan eksportir gula utama, seperti Brasil, Australia, dan Thailand, biaya pokok produksi gula hanya sekitar 50-80 persen dibandingkan dengan biaya gula di Indonesia atau setara biaya pabrik gula swasta.

Selain itu, budidaya tebu dilakukan secara mekanisasi dan prosesnya semi otomatis di pabrik. Alokasi biaya tenaga kerja relatif kecil sedangkan kapasitas giling pabrikan besar rerata 10.000-15.000 ton tebu per hari.

Sisi lain, pabrik gula bukan hanya menghasilkan gula, tetapi produk turunan lain berbasis tebu yang bernilai ekonomi tinggi, seperti etanol, listrik, dan kertas.

Adapun di Indonesia, kata Khudori, hingga saat ini pokok persoalan ada pada banyaknya pabrik yang obsolete, tua, dan berkapasitas giling kecil atau di bawah 3.000 ton tebu per hari.

"Jadi kalau berkaca dari perkembangan beberapa tahun terakhir target penambahan pabrik gula sulit tercapai," katanya kepada Bisnis, Rabu (16/9/2020).

Khudori mencatat saat ini jumlah pabrik gula di Indonesia hanya sekitar 62 buah, dengan 68 persen pabrik tua berumur di atas 80 tahun dan 80 persen terdapat di Pulau Jawa.

Menurutnya, untuk meningkatkan daya saing pabrik gula harus dilakukan sejumlah langkah simultan. Pertama, pabrik gula kecil dikonsolidasikan menjadi pabrik besar sehingga biaya produksi gula dan produk hilir lainnya bisa lebih ekonomis. Kedua, produktivitas gula ditingkatkan dengan perbaikan varietas tebu dan kultur teknis. Ketiga, kehilangan gula selama perjalanan dari kebun ke pabrik ditekan seminimal mungkin. Keempat, kalau memungkinkan menyatukan kembali manajemen di lahan dan giling. Kelima, orientasi produksi bukan hanya gula, tetapi diperluas ke produk turunan lainnya.

Sementara itu,Tenaga Ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Yadi Yusriyadi pernah memproyeksi produktivitas gula tahun ini akan sedikit menurun dengan berbagai persoalan pabrikan yang terjadi. Padahal swasembada gula Tanah Air sudah diagungkan sejak 2004 silam.

AGI mencatat pada 2019 memang terjadi penurunan luas tebu digiling dari 2018 seluas 413.432 ha menjadi 411.435 ha, tetapi masih diimbangi kenaikan produktivitas gula dari 5,26 juta ton menjadi 5,41 juta ton gula/ha.

Sementara, produksi dalam negeri tahun ini diperkirakan antara 2,0 juta - 2,1 juta ton akibat dampak kemarau panjang pada 2018 dan 2019. Angka tersebut mengindikasi penurunan produktivitas gula sekitar 10%.

Yadi mengatakan padahal dari perluasan areal tebu tahun ini diproyeksi masih ada tambahan dari luar Jawa sehingga total Iuas areal tebu giling tahun ini menjadi sekitar 419.993 ha.

"Namun, masalah lahan di luar Jawa dan Sumatera yang tidak clear and clean ini jadi pemicunya. Kami kira produktivitas yang masih naik 2019 di 5,41 juta ton gula/ha akan turun sampai di bawah 5 juta," katanya.

Terkait daya saing, Yadi menilai saat ini satu pabrikan dibagi 150 hari giling total paling tidak harus menghasilkan 500.000 tcd [ton cane per day] sedangkan yang ada sekarang masih 280.000 tcd. Jadi satu-satunya jalan impor kalau tidak mau harga gula mahal karena stok yang sedikit.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono mengatakan target instansinya untuk menambah pabrik gula baru sebanyak 15 unit pada periode 2020 sampai dengan 2024.

"Pada 2020, kami akan jaring 15 investor untuk bangun pabrik gula lagi sebagai tambahan pada periode 2020 sampai dengan 2024."

Direktur Tanaman Semusim dan Rempah Kementerian Pertanian Agus Wahyudi mengungkapkan dua investor akan membangunpabrik gula di Kabupaten Seram Barat dan Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku dengan kapasitas gliling 6.000 ton tebu per hari (TCD).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pabrik gula impor gula
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top