Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Neraca Dagang Juli 2020 Berpotensi Surplus, Ekspor dan Impor Mulai Bergeliat

Pertumbuhan ekspor pada Juli 2020 akan didorong oleh kenaikan indikator manufaktur di negara-negara mitra dagang Indonesia, hingga mencapai level ekspansi, seperti kawasan Eropa, AS, dan Tiongkok.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 13 Agustus 2020  |  18:06 WIB
Petugas dibantu alat berat memindahan kontainer dari kapal ke atas truk pengangkut di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Selasa (17/5). JIBI/Bisnis - Dwi Prasetya
Petugas dibantu alat berat memindahan kontainer dari kapal ke atas truk pengangkut di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Selasa (17/5). JIBI/Bisnis - Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2020 diperkirakan akan surplus namun tidak setinggi bulan sebelumnya yang dipengaruhi oleh peningkatan ekspor dan impor secara bulanan.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan neraca perdagangan Juli 2020 akan membukukan surplus US$1,24 miliar, lebih rendah dari Juni 2020 tercatat surplus US$1,27 miliar.

"Diperkirakan secara bulanan ekspor akan mengalami pertumbuhan sebesar 6,7 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), sementara impor akan bertumbuh 7,5 persen mtm," katanya kepada Bisnis, Kamis (13/8/2020).

Josua menjelaskan, pertumbuhan ekspor pada Juli 2020 akan didorong oleh kenaikan indikator manufaktur di negara-negara mitra dagang Indonesia, hingga mencapai level ekspansi, seperti kawasan Eropa, AS, dan Tiongkok.

Hal ini tercermin dari PMI Manufaktur di negara-negara tersebut yang mencapai level di atas 50, misalnya PMI Manufaktur kawasan Eropa yang mencapai 51,8, AS 50,9, dan China 51,8.

Di sisi lain, mayoritas harga komoditas juga mengalami peningkatan, seperti CPO dan karet, yang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 12,75 persen mtm dan 12,63 persen mtm. Sementara harga batu bara masih mengalami penurunan sebesar 0,38 persen.

"Pada Juli 2020, diperkirakan pertumbuhan impor juga akan mengalami peningkatan seiring dengan pemulihan sektor manufaktur Indonesia dan kenaikan harga minyak dunia," katanya.

Tercatat, PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2020 mengalami peningkatan hingga mencapai level 46,9, sehingga Josua memperkirakan akan terjadi peningkatan impor bahan baku serta barang modal.

Sementara itu, harga minyak dunia juga mengalami kenaikan sebesar 3,78 persen mtm, dan diperkirakan akan mendorong kenaikan impor migas pada Juli 2020.

Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan neraca perdagangan Indonesia akn melanjutkan tren surplus, yaitu pada kisaran US%500 juta hingga US$1 miliar.

Menurutnya, impor pada Juli 2020 masih mengalami tekanan dan belum kembali ke posisi sebelum terjadi pandemi Covid-19.

"Barang-barang konsumer sudah mulai ada peningkatan dari Juni, bahan baku juga ada peningkatan sedikit, yang masih menurun impor BBM," katanya.

Di samping itu, David menyampaikan ekspor pada Juli 2020 juga mengalami sedikit perbaikan. Beberapa komoditas yang harganya sudah mulai pulih adalah tembaga, nikel, dan CPO.

"Secara tahunan ekspor dan impor masih dalam level kontraksi, tapi dibandingkan Juni 2020 bisa atau kuartal I/2020 bisa lebih tinggi," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan surplus perdagangan
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top