Industri Daging Masuki Era Disrupsi Teknologi

Lembaga riset GIRA memperkirakan volume konsumsi daging sapi Indonesia pada 2022 mendatang dapat mencapai 840.000 ton, meningkat 8,3 persen dibandingkan volume konsumsi pada 2018 sebanyak 770.000 ton. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 26 Juli 2019  |  17:25 WIB
Industri Daging Masuki Era Disrupsi Teknologi
Pedagang daging sapi segar melayani konsumen, di Pasar Modern, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA--Lembaga riset GIRA memperkirakan volume konsumsi daging sapi Indonesia pada 2022 mendatang dapat mencapai 840.000 ton, meningkat 8,3 persen dibandingkan volume konsumsi pada 2018 sebanyak 770.000 ton. 

Kenaikan volume konsumsi daging sapi tersebut berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang diproyeksi mencapai 277,4 juta jiwa pada 2022.

Valeska, Country Manager of Meat & Livestock Australia (MLA) untuk Indonesia, mengatakan peningkatan konsumsi ini diikuti pula dengan perubahan cara pandang konsumen terhadap daging sapi. Berkaca pada tren digitalisasi di berbagai sektor, khususnya industri pangan, konsumen kini cenderung menjadikan kemudahan akses sebagai pertimbangan. 

Hal ini dibarengi dengan meningkatnya kesadaran untuk mengonsumsi makanan yang jelas asal-muasalnya.

"Teknologi digital itu sudah mendisrupsi berbagai sektor. [Dari sini] kami melihat ada pergeseran pada konsumen. Mereka tidak hanya membeli di pasar atau swalayan, tapi sekarang sudah banyak yang mencoba membeli secara daring," tutur Valeska di sela-sela kegiatan diskusi bertema Beef Talk: Towards Industry 4.0 di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Sebagai badan riset pengembangan dan pemasaran yang mewakili industri daging merah dan peternakan sapi Australia, MLA membawa misi khusus dalam menghadapi situasi ini. Valeska menjelaskan pihaknya kini tengah gencar menggandeng para peternak untuk berpikir di luar cara tradisional. 

Tujuannya sederhana, agar sisi hulu bisa berjalan dengan sinergi mengikuti kondisi konsumen. Ia mengatakan hal ini sejalan pula dengan peta jalan Indonesia dalam menghadapi Industri 4.0 yang digulirkan pemerintahan Joko Widodo.

"Kami melihat, misal di Australia, lebih banyak peternak yang tak lagi berusia muda. Sementara yang muda tak ingin berkarier di bidang ini sehingga bagaimana [ke depannya] memanfaatkan teknologi ini. Tapi kalau hanya menggunakan teknologi dan tidak disambungkan dengan keinginan konsumen, itu 'sayang' istilahnya," jelasnya.

Pemanfaatan teknologi, kata Valeska, dapat diterapkan untuk mengetahui rantai pasokan daging. Lewat teknologi, konsumen bisa mengetahui secara jelas bagaimana proses pengolahan daging yang ia konsumsi. 

Valeska mengatakan beberapa negara bagian di Australia telah mulai menerapkannya. "Kami melihatnya ke arah sana [penerapan teknologi] karena hal ini bisa menjadi pembeda bahwa brand tersebut aman, bersih. Konsumen bisa mengeceknya sendiri, bukan semata-mata klaim produsen," sambungnya.

Untuk di Indonesia, Valeska mengemukakan penerapan sampai tingkat konsumen memang belum tinggi. Namun, ia menyatakan sejumlah pengusaha penggemukan dan peternak sapi di Indonesia telah mengaplikasikan sistem yang memungkinkan proses produksi daging terpantau secara digital.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
daging sapi, ia-cepa

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top