Menkeu Sri Mulyani: Deviasi Asumsi Makro APBN 2019 Masih Aman

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan realisasi asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 semester I/2019 di hadapan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Selasa (16/7/2019).
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  18:19 WIB
Menkeu Sri Mulyani: Deviasi Asumsi Makro APBN 2019 Masih Aman
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kedua kanan) didampingi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (kanan) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua kiri) memberikan penjelasan saat rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, di Jakarta, Senin (8/7/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan realisasi asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 semester I/2019 di hadapan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Selasa (16/7/2019).

Dalam penyampaian tersebut, ada beberapa aspek asumsi makro yang tidak sesuai dengan asumsi yang telah dipatok.

Meski demikian, deviasi dari asumsi makro tersebut masih dipandang relatif terjaga.

Realisasi pertumbuhan ekonomi pada semester I/ 2019 mencapai mencapai 5,1% year-on-year (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan target yang dipatok dalam asumsi makro APBN 2019 yang mencapai 5,3%.

Capaian tersebut didukung oleh konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah yang tumbuh tinggi akibat pengeluaran THR, pelaksanaan Pemilu 2019, serta pelaksanan bantuan sosial.

Investasi mengalami perlambatan dan ekspor-impor juga mengalami kontraksi. Hal ini disebabkan oleh perang dagang yang berdampak pada melambatnya investasi global dan meningkatnya kebijakan proteksionisme yang menghambat ekspor. Meski demikian, investasi dalam negeri masih positif.

Selanjutnya, inflasi per semester I/2019 juga masih di bawah batasan APBN 2019 yang dipatok mencapai 3,5% (yoy). Adapun inflasi per semester I/2019 mencapai 3,3% (yoy) dan 2,05% year-to-date (ytd).

Tingkat bunga SPN 3 bulan yang dalam APBN 2019 dipatok pada angka 5,3% pada semester I/ 2019 telah mencapai 5,8%.

Nilai tukar per semester I/2019 lebih kuat dibandingkan dengan yang diasumsikan dalam APBN 2019. APBN 2019 mengasumsikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada nominal Rp15.000 per dolar AS.

Pada semester I/2019, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada nominal Rp14.197 per dolar AS.

Meski demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di hadapan Banggar mengatakan masih terdapat potensi risiko tekanan dari perang dagang.

Lebih lanjut, harga Indonesia Crude Price (ICP) pada semester I/2019 hanya US$63 per barel, lebih rendah dibandingkan dengan asumsi makro APBN 2019 yang dipatok pada angka US$70 per barel.

Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh perang dagang dan ke depannya akan terus dipengaruhi oleh kondisi geopolitik serta kebijakan negara anggota OPEC+ terkait pemangkasan produksi minyak mentah.

Adapun untuk lifting minyak dan gas masing-masing diperkirakan mencapai 755.000 barel per hari dan 1,05 juta barel setara minyak per hari.

Dengan ini, outlook pertumbuhan ekonomi untuk APBN 2019 diprediksi mencapai 5,2%, inflasi 3,1%, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp14.250 per dolar AS, suku bunga SPN 3 bulan 5,6%, harga ICP US$63 per barel, lifting minyak 754.000 barel per hari, dan lifting gas 1,07 juta barel setara minyak per hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apbn, sri mulyani, asumsi makro

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top