Semester I/2019, Lifting Migas Masih di Bawah Target APBN

SKK Migas mencatat hingga Juni, lifting migas 'hanya' 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019 sebanyak 2 juta barel setara minyak per hari (BOEPD).
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  16:59 WIB
Semester I/2019, Lifting Migas Masih di Bawah Target APBN
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas menyatakan hingga Juni, lifting migas tercatat 89 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019 sebanyak 2 juta barel setara minyak per hari (BOEPD).

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher mengatakan capaian produksi minyak hingga akhir semester I/2019 masih di bawah target APBN 2019. Menurutnya, hal tersebut bergantung pada kemampuan cadangan minyak dalam reservoir. 

Adapun reservoir harus dijaga agar produksi optimal, sehingga kandungan air tidak melonjak. 

Berdasarkan data SKK Migas, produksi minyak hingga akhir Juni 2019 tercatat sebanyak 752.000 barel per hari (bph) atau sekitar 97,03 persen dari target 775.000 bph. Untuk gas, realisasi produksinya sebanyak 1,05 juta BOEPD atau 84,48 persen dari target 1,25 juta BOEPD.

Wisnu menampik rendahnya produksi gas akibat menurunnya kinerja hulu migas nasional. Menurutnya, hal tersebut juga dipengaruhi penyerapan gas oleh pembeli.

“Misalnya LNG di Kilang Bontang yang belum diserap maksimal oleh Pertamina sebagai buyer yang akhirnya menyebabkan harus ada penurunan intake gas di Kilang Bontang dari semua produser gas di Kalimantan Timur,” katanya, Selasa (9/7/2019).

Kinerja paruh pertama 2019 menampilkan lima produsen minyak terbesar dengan kontribusi sebesar 75 persen dari total produksi/lifting minyak nasional. Kelima kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) tersebut adalah ExxonMobil Cepu Limited dengan produksi minyak 220.000 bph, PT Chevron Pacific Indonesia 194.000 bph, PT Pertamina EP 80.000 bph, PT Pertamina Hulu Mahakam 37.000 bph, dan PT Pertamina Hulu Energi Offshore South East Sumatera (OSES) 29.000 bph.

SKK Migas juga mencatat lima produsen gas bumi terbesar yang berkontribusi sebesar 65 persen dari total lifting gas bumi nasional. Urutan teratas ditempati BP Berau Limited dengan 174.000 BOEPD, ConocoPhilips (Grissik) Ltd 148.000 BOEPD, Pertamina EP 137.000 BOEPD, Pertamina Hulu Mahakam 118.000 BOEPD, dan Eni Muara Bakau 115.000 BOEPD.

SKK Migas sendiri berharap target lifting migas 2019 dapat tercapai pada paruh kedua tahun ini dengan adanya 8 dari 11 proyek akan onstream di semester II/2019 .

“SKK Migas bersama mitra KKKS terus berupaya melakukan program pengembangan secara berkelanjutan, serta juga melaksanakan eksplorasi untuk mencari cadangan migas yang baru,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
migas, lifting minyak

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top