Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ayam & Telur Surplus, Butuh Akselerasi Ekspor

Pemerintah menilai produk peternakan ayam baik daging dan telur perlu dilakukan akselerasi atau percepatan ekspor internasional maupun regional agar dapat terserap pasar dengan baik pada saat over produksi.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 03 Juli 2019  |  17:30 WIB
Ayam & Telur Surplus, Butuh Akselerasi Ekspor
Pedagang merapikan telur - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, SURABAYA – Pemerintah menilai produk peternakan ayam baik daging dan telur perlu dilakukan akselerasi atau percepatan ekspor internasional maupun regional agar dapat terserap pasar dengan baik pada saat over produksi.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengatakan pada tahun lalu, Indonesia mengalami surplus daging ayam sebesar 517.800 ton dan telur surplus 26.100 ton.

“Untuk itu, perlu akselerasi ekspor untuk komoditas daging dan telur ayam ras ini,” ujarnya saat sambutan pembukaan pameran Indo Livestock 2019, Rabu (3/7/2019).

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementan, Fini Murfiani mengatakan salah satu upaya untuk mendorong percepatan ekspor produk peternakan adalah didirikannya pavilion ekspor dalam ajang pameran Indo Livestock Surabaya yang bisa melayani pelaku usaha yang ingin melakukan ekspor hasil ternaknya.

“Pavilion ekspor ini bisa memfasilitasi pelaku usaha yang mau ekspor bisa konsultasi dan komunikasi sekaligus bisa mempromosikan produk pertanian/peternakannya kepada calon buyer,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Wemmi Niamawati mengatakan pelaku usaha dan integrator diharapkan aktif melakukan ekspor produk olahan/ frozen sebagai upaya penyerapan produk daging ayam yang berlebih.

“Kita sangat memungkinkan untuk ekspor karena di Jatim punya banyak perusahaan, lalu produk yang kita hasilkan juga sehat karena ada pengujian, tidak ada campuran bahan lain, bahkan memiliki serifikasi kesehatan hewan,” jelasnya.

Wemmi memaparkan populasi ayam petelur di Jatim pada tahun lalu mencapai 49,5 juta ekor atau telah menyumbang 28% terhadap produksi nasional. Sedangkan populasi ayam pedaging mencapai 252,9 juta ekor atau menyumbang 14%.

“Sementara produksi telur mencapai 534.470  ton atau menyumbang 29% degan tingkat konsumsi hanya 348.771 ton sehingga mengalami surplus 194.69 ton,” ujarnya.

Adapun pada tahun lalu, Jatim telah menyuplai produk peternakan ke sejumlah daerah yang memiliki harga bagus seperti Papua, Sulawesi, NTB, NTT, Sumatra, Maluku, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Jenis produk yang dikirim tersebut di antaranya daging ayam yang dikirim ke berbagai provinsi tersebut di antaranya daging ayam 35,2 juta kg, daging olahan (bakso, sosis, nuget, cornet, abon) 6,6 juta ton, dan telur sebanyak 29,1 juta kg.

Sedangkan produk peternakan yang diekspor ke luar negeri berupa olahan, seperti telur olahan 2.336 kg ke Amerika Serikat, daging olahan 12.000 kg ke Hong Kong, dan susu olahan 61,7 juta kg ke AS, Asia, Timur Tengah dan Afrika.

Wemmi menambahkan, meski harga ayam broiler/pedaging di tingkat peternak sempat anjlok pada beberapa minggu lalu, tapi kini sudah mulai naik.

Pemprov Jatim bersama dengan Dirjen PKH serta tim satgas pangan Polda juga telah melakukan koordinasi untuk monitoring dan investigasi terhadap disparitas harga livebird dengan harga konsumsi di pasar yang selisihnya sangat jauh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telur daging ayam
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top