Macet Mudik Tanda Konektivitas Jalan Belum Optimal

Indeks konektivitas jalan berada pada peringkat 120, meskipun kualitas jalan pada peringkat 75.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 12 Juni 2019  |  14:34 WIB
Macet Mudik Tanda Konektivitas Jalan Belum Optimal
Pemudik melintas di jalur Tol Trans Jawa, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (2/6/2019). - ANTARA/Harviyan Perdana Putra

Bisnis.com, JAKARTA — Supply Chain Indonesia (SCI) mencatat konektivitas infrastruktur jalan Indonesia masih rendah dan tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Pemerintah harus meningkatkan konektivitas infrastruktur dan mengintegrasikan pengoperasiannya.

Keberhasilan pembangunan infrastruktur itu dapat dilihat dalam The Global Competitiveness Report 2018 yang dikeluarkan World Economic Forum (WEF).

Berdasarkan Laporan WEF, peningkatan konektivitas infrastruktur jalan Indonesia masih harus dilakukan. Indeks konektivitas jalan berada pada peringkat 120, walaupun kualitas jalan pada peringkat 75.

Ketua Umum SCI, Setijadi menuturkan di antara negara-negara Asean, indeks konektivitas jalan Indonesia di bawah Brunei Darussalam (peringkat 36), Thailand (55), Kamboja (100), Vietnam (107). Indonesia hanya lebih baik daripada Malaysia (128), Filipina (129), dan Laos (130).

"Selain indeks konektivitas jalan yang masih rendah, pengoperasian infrastruktur jalan juga belum optimal. Salah satu contoh kasusnya adalah pengoperasian jalan tol yang tidak terintegrasi sistem pembayarannya," terangnya kepada Bisnis, Rabu (12/6/2019).

Menurutnya, hal ini berdampak terhadap kemacetan, terutama pada puncak penggunaan seperti pada masa arus mudik dan balik Idulfitri seperti yang baru-baru ini terjadi. Dia menilai dengan sistem pembayaran yang belum terintegrasi penuh, pengguna jalan tol harus melakukan pembayaran di beberapa gerbang tol (GT).

"Pembayaran di GT menjadi pemicu antrean yang tidak hanya merugikan waktu dan biaya pengguna, tetapi meningkatkan potensi kecelakaan akibat kelelahan yang bertambah," jelas Setijadi.

Sarannya, sistem pembayaran seharusnya dilakukan secara terintegrasi, sehingga pengguna melakukan pembayaran hanya satu kali, yaitu di GT keluar. Dengan sistem informasi terintegrasi yang sederhana dapat diketahui ruas-ruas tol yang dilalui oleh pengguna, sehingga biaya atau pembayaran dapat didistribusikan sesuai dengan ruas-ruas tol yang dilalui tersebut.

"Bahkan, lebih dari itu, program elektronifikasi jalan tol dengan transaksi nirsentuh yang ditargetkan dimulai tahun 2020 sudah harus segera dipersiapkan oleh para pemangku kepentingan, terutama operator-operator jalan tol," jelasnya.

Program yang bertujuan untuk menciptakan transaksi di jalan tol tanpa henti atau multilane free flow yang akan mempercepat dan meningkatkan efisiensi transportasi, baik untuk penumpang maupun barang.

"Khusus untuk infrastruktur transportasi, terutama jalan, SCI merekomendasikan peningkatan konektivitas infrastruktur dan integrasi sistem pengoperasiannya," tuturnya.

Sementara itu, dia mengapresiasi keberhasilan pembangunan infrastruktur Indonesia pada periode 2014—2019 dan mendorong kelanjutannya dengan lebih meningkatkan integrasi antar infrastruktur yang menunjukkan peningkatan infrastruktur Indonesia menjadi peringkat 71 dari 140 negara.

Walaupun, peringkat infrastruktur Indonesia di antara negara-negara Asean masih di bawah Singapura (peringkat 1), Malaysia (32), Brunei Darussalam (54), dan Thailand (60). Peringkat Indonesia lebih baik daripada Vietnam (peringkat 75), Filipina (92), Laos (99), dan Kamboja (120).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
infrastruktur, jalan tol

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top