Dagang dengan Mercosour Rentan Risiko Gejolak Ekonomi

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku menjajaki peluang imbal dagang komoditas dengan negara anggota Mercosur termasuk Argentina dan Brasil.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  11:52 WIB
Dagang dengan Mercosour Rentan Risiko Gejolak Ekonomi
Gedung-gedung tampak terlihat dari pinggir Sungai Rio de Plata, Buenos Aires. - Bisnis/Feni Freycinetia

Bisnis.com, JAKARTA — Kadin Indonesia mengingatkan risiko kerja sama perdagangan dengan negara-negara anggota Mercosur yang rentan dengan gejolak ekonomi dan politik.

Dalam kunjungan ke Argentina, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku menjajaki peluang imbal dagang komoditas dengan negara anggota Mercosur. Menteri Enggar mencontohkan Argentina yang memiliki komoditas yang dibutuhkan Indonesia seperti terigu, kedelai, dan daging sapi.

Sementara itu, komoditas Indonesia yang dapat ditawarkan dalam bentuk imbal dagang dengan negara itu a.l. otomotif pedesaan beserta suku cadangnya, karet alam, kopra, dan produk elektronik.

Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Handito Joewono mengatakan, pembukaan akses ke negara Mercosur (yang terdiri atas Argentina, Brasil, Paraguay, Uruguay, dan Venezuela) merupakan langkah yang penting dalam upaya melakukan diversifikasi pasar ekspor.

Terlebih, lanjutnya, nilai perdagangan Indonesia dengan negara anggota Mercosur selama ini relatif kecil. Kendati demikian, dia menengarai kerja sama dagang dengan blok Amerika Latin tersebut belum dapat diandalkan sebagai tulang punggung ekspor baru bagi Indonesia.

“Kondisi perekonomian negara-negara tersebut sangat fluktuatif, sering kali terjadi gejolak yang tentu akan menganggu permintaan mereka terhadap produk impor dari negara kita. Untuk itu, cukup sulit untuk mengandalkan permintaan dari negara tersebut secara stabil dari waktu ke waktu,” ujarnya, Kamis (16/5).

Dia mencontohkan, Argentina dan Venezuela yang pada tahun lalu perekonomiannya mengalami kejatuhan. Kondisi tersebut membuat pola permintaan produk impor negara tersebut turut terkoreksi.

Di sisi lain, dia juga menilai terdapat cukup banyak kesamaan produk yang diproduksi Indonesia dengan yang dibuat oleh negara-negara Mercosur, terutama untuk produk industri dasar dan pertanian.

Untuk itu, dia berharap agar pemerintah dan pelaku usaha meningkatkan diversifikasi produk ekspor dengan memasok produk jadi dan produk kreatif yang relatif memiliki perbedaan dengan produk negara Mercosur.

“Produk jadi seperti alat transportasi, produk makanan olahan, komponen serta produk kreatif menjadi pilihan yang paling baik untuk diekspor ke negara tersebut. Sebab, kalau dilihat dari karakter industri di negara Mercosur, produk tersebut belum banyak memiliki pesaing yang kuat,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, kerja sama perdagangan

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top