Neraca Dagang Maret Surplus US$540 Juta

Ekspor pada Maret 2019 naik 11,71% menjadi US$14,03 miliar dibandingkan Februari 2019. Namun angka ini turun jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 10,01%.
Hadijah Alaydrus | 15 April 2019 11:52 WIB
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Surplus dagang Indonesia berlanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia berada di teritori positif sebesar US$540 juta.

Surplus ini disebabkan oleh dari posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar US$14,03 miliar atau lebih tinggi dibandingkan nilai neraca impor sebesar sebesar US$13,49 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan kenaikkan berasal dari surplus nonmigas sebesar US$988,6 miliar. Adapun, neraca migas mengalami defisit sebesar US$448 miliar.

“Situasinya globalnya cukup sulit, tetapi kita Alhamdullilah masih bisa surplus,” ujar Kecuk, Senin (15/04/2019).

Ekspor pada Maret 2019 naik 11,71% menjadi US$14,03 miliar dibandingkan Februari 2019. Namun angka ini turun jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 10,01%.

Suhariyanto menuturkan peningkatan ini dipicu pertumbuhan ekspor nonmigas yang meningkat 13%. Sementara itu, ekspor migas turun 1,57% karena minyak mentah dan hasil minyak turun.

Berdasarkan sektornya, hampir seluruh sektor meningkat kecuali migas. Pertanian tumbuh 15,91% dari posisi bulan lalu menjadi US$270 juta pada Maret 2019. Adapun, realisasi tahunannya tercatat turun 3,91%.

Neraca Perdagangan RI pada Maret 2019-Badan Pusat Statistik

Peningkatan bulanan didorong oleh ekspor tanaman obat, rumput laut, mutiara dan hasil hutan bukan kayu.

Ekspor industri pengolahan mengalami peningkatan 9,48% pada Maret 2019 dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$10,31 miliar. Berdasarkan posisi tahunanya, ekspor sektor ini menurun 7,84% dibandingkan Maret 2018. Peningkatan ini didorong oleh ekspor besi baja, logam mulia, tembaga dan kimia dasar organik.

Ekspor pertambangan meningkat 31,08% pada Maret 2019 dari bulan sebelumnya menjadi US$2,36 miliar. Akan tetapi, realisasi tahunannya turun 15,37% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan ekspor tambang secara bulanan yang cukup tajam didorong oleh kenaikan ekspor batubara, lignite dan tembaga. Adapun, ekspor migas turun sebesar 1,57% menjadi US$1,09 miliar pada bulan Maret ini. Adapun, posisi tahunanya tercatat turun lebih dalam lagi sebesar 18,33%.

Total Ekspor 2019
BulanNilai Ekspor (Miliar US$ )
Januari13,93
Februari12,56
Maret14,03

Sumber: BPS

Impor mengalami peningkatan sebesar 10,31% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$13,49 miliar. Namun, posisi ini menurun sebesar -6,76% dibandingkan Maret 2018. Secara bulanan, penurunan tampak pada impor migas yang menurun sebesar 2,70% menjadi US$1,54 miliar.

Secara sektor, peningkatan terjadi di semua sektor. Penurunan tertinggi pada Maret terjadi di sektor konsumsi sebesar 13,49% menjadi US$1,15 miliar didorong oleh impor buah anggur, jeruk mandarin dan kurma meningkat. Suhariyanto menilai hal ini sesuatu yang biasa terjadi pada impor barang konsumsi jelang puasa.

Secara tahunan, impor konsumsi menurun -4,46%. Sektor bahan bak dan penolong mengalami peningkatan 12,34% menjadi US$10,14 miliar pada Maret 2019. Sementara itu, posisi tahunannya menurun 6,78%.

Total Impor 2019
BulanNilai Impor (Miliar US$)
Januari14,99
Februari12,23
Maret13,49

Sumber: BPS

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan, impor, bps

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup