IA-CEPA Buka Pasar Keramik Indonesia ke Australia

Pasar baru untuk ekspor produk keramik ubin nasional terbuka setelah perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) diteken.
Annisa Sulistyo Rini | 14 Maret 2019 21:30 WIB
Perajin membuat keramik tradisional di Plered, Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (26/9/2018). Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyatakan Indonesia berpotensi besar menjadi kekuatan ekonomi kreatif di dunia. - ANTARA/M Ibnu Chazar

Bisnis.com, JAKARTA--Pasar baru untuk ekspor produk keramik ubin nasional terbuka setelah perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) diteken.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan industri keramik menjadi salah satu sektor yang bisa didorong untuk memperluas pasar ekspornya karena memiliki kapasitas terpasang besar. Sepanjang tahun lalu, dari kapasitas sebesar 580 juta m2, yang terpakai sebesar 380 juta m2.

"Kalau dulu building materials masuk dari Australia, sekarang sudah waktunya reverse, produk Indonesia masuk ke Australia," ujarnya di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

IA-CEPA sebelumnya telah diteken oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham pada awal bulan ini.

Ekspor Indonesia diproyeksikan meningkat ke Australia, karena komitmen Negara Kanguru ini untuk mengeliminasi bea masuk impor untuk seluruh pos tarifnya menjadi 0%.

Edy Suyanto, Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), menuturkan produk keramik yang diminati pasar Australia adalah granit tile. Kerja sama IA-CEPA dinilai memberikan pasar baru bagi industri keramik dalam negeri.

"Selama ini pasar Australia diisi produk Malaysia dan China, padahal secara geografis Indonesia lebih dekat. Saya rasa ini akan menjadi sasaran pasar baru," jelasnya.

Dengan kemampuan produksi granite tile sebesar 1 juta m2 per tahun, Edy meyakini pabrikan domestik memiliki kapasitas yang cukup untuk masuk ke pasar Australia. Keramik granite tile, lanjutnya, masuk dalam kategori produk segmen menengah ke atas.

Di Indonesia, sebanyak 20% perusahaan keramik memproduksi produk segmen menengah ke atas, sedangkan 80% bermain di segmen menengah ke bawah. Edy menyatakan kualitas produk domestik cukup diperhitungkan di pasar global.

"Salah satunya Roman memiliki pasar ekspor 30%," katanya.

Adapun, untuk bisa mendorong ekspor keramik secara maksimal, Edy berharap pemerintah bisa memberikan dukungan terhadap industri berupa harga gas yang bersaing.

Tag : industri keramik
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top