Investor Dunia Berburu Bisnis Hotel di Asia Pasifik

Berdasarkan laporan JLL terbar, Asia Pasifik menjadi satu-satunya wilayah yang dinantikan atas pertumbuhan volume transaksi perhotelan pada tahun ini.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 11 Maret 2019  |  16:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Berdasarkan laporan Jones Lang LaSalle (JLL) terbaru, Asia Pasifik menjadi satu-satunya wilayah yang dinantikan atas pertumbuhan volume transaksi perhotelan pada tahun ini.

Para pembeli yang paling dominan adalah dana ekuitas swasta Pan-Asian yang berhasil meningkatkan modal pada tahun lalu.

REITs yang sudah listing, terutama REITs Jepang, akan melirik pasar yang paling likuid di Asia untuk pembelian, sementara para konglomerat, pemilik, dan penghuni akan lebih selektif membeli di pasar utama.

Walaupun Asia Pasifik sering mengalami beberapa bencana alam, Head of Hotel Investment Sales Asia, JLL’s Hotel & Hospitality Group Nihat Ercan yakin Asia Pasifik mampu menarik minat para investor dunia.

“Meskipun terjadi serangkaian bencana alam, pasar hotel di Jepang tetap mampu menarik minat para investor dunia. Hampir 30% dari semua investasi di Asia Pasifik ditanamkan di Jepang, dengan ini Jepang menggeser China dari posisi puncak,” ucapnya dikutip pada siaran resminya, Senin, (11/3/2019).

Menurutnya sentimen investor di Jepang akan tetap tinggi dengan adanya Rugby World Cup dan Olimpiade Tokyo. Dibuktikan saat ini pasar sudah mengalami pertumbuhan sebesar 8,7% dalam setahun di bidang pariwisata.

Tak hanya itu, pasar hotel di Singapura berhasil menarik 7% lebih banyak wisatawan pada tahun kemarin, mendorong kenaikan positif RevPAR di semua skala kelas perhotelan.

Di China, permintaan pariwisata melampaui penawaran. JLL mencatat pertumbuhan RevPAR dengan rekor tertinggi di seluruh kota-kota besar China pada tahun 2018, termasuk Chengdu yang naik 20%, Beijing naik 15%, Chongqing naik 13% dan Wuhan 12%.     

“Sementara kita berada di kondisi late-cycle dimana tingkat imbal balik tetap rendah dengan kemungkinan yang terbatas untuk tekanan lebih lanjut, kebanyakan investor tidak melihat adanya penurunan besar di masa mendatang,” ujarnya.

Ercan menjelaskan pula bahwa setelah terjadi pelemahan pada kuartal terakhir tahun 2018, permintaan dan transaksi mulai meningkat di awal tahun ini. Tingkat suku bunga saat ini juga semakin stabil, sehingga para investor dapat berkonsentrasi pada pertumbuhan income serta pasar yang memiliki fundamental kuat,” tambahnya.

JLL berharap para investor yang melirik pasar Asia Pasifik akan memperhitungkan berkurangnya kenaikan income sebagai faktor dalam asumsi valuasi mereka; tetapi, likuiditas di kota-kota besar serta tuntutan imbal balik yang lebih rendah justru akan mendorong meningkatnya volume transaksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perhotelan

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top