IPW: Pasar Perumahan Naik 62,4%

Indonesia Property Watch merilis survei yang menunjukkan tren pasar perumahan diperkirakan mulai berada di jalur yang menjanjikan diatas 50%
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 23 Maret 2018 23:12 WIB
Perumahan sederhana di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. - Antara/Raisan Al/Farisi

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia Property Watch (IPW) merilis survei yang menunjukkan tren pasar perumahan diperkirakan mulai berada di jalur yang menjanjikan di atas 50%

CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menyatakan setelah sedikit terjadi penurunan di semester I/2017, peningkatan penjualan mulai terlihat di semester II/2017 dan diperkirakan terus berlanjut sampai awal 2018 ini.

Dia mengatakan penjualan perumahan di area Jabodebek-Banten mencapai 2.457 unit pada kuartal keempat 2017 atau terjadi peningkatan 62,4% (qtq) dengan kenaikan tertinggi terjadi di Banten seperti yang telah sebelumnya dirilis sebesar 124,6% (qtq), diikuti oleh Bodebek sebesar 3,5% (qtq).

Sementara itu penjualan di Jakarta turun 13,3% (qtq). Seiring dengan hal itu, nilai penjualan naik sebesar 46% (qtq) pada kuartal empat 2017 dengan perkiraan transaksi Rp1,08 triliun. Nilai penjualan tertinggi berada di Banten sebesar 79% (qtq), diikuti Bodebek 29,9% (qtq). Penurunan terjadi di Jakarta sebesar 7,7% (qtq).

“Permintaan rumah di segmen Rp300 juta – Rp1 miliar masih mendominasi sebesar 44% dari total penjualan rumah meskipun terjadi penurunan komposisi dari sebelumnya 46,1%,” ungkap Ali melalui siaran pers pada Jumat (23/3/2018).

Selain itu, Ali melanjutkan rumah dengan harga Rp150 – Rp300 jutaan mengalami kenaikan permintaan dari 26,4% menjadi 34,4% dari total penjualan rumah sampai akhir 2017.

Penurunan terjadi di segmen rumah subsidi yang turun dari 17,0% menjadi 14,9%. Tren penurunan terjadi juga di segmen rumah seharga diatas Rp1 miliar dari 10,3% menjadi 6,7%.

Meskipun terjadi kenaikan, tingkat penjualan ini masih lebih rendah 9,8% (yoy) dibandingkan total penjualan rumah pada 2016.

Penurunan yang terjadi pada 2017 lebih dikarenakan anjloknya penjualan rumah yang terjadi pada semester I/2017.

Namun demikian, kondisi yang terjadi tersebut tidak mencerminkan kondisi tren pasar perumahan sebenarnya karena lebih terganggu oleh isu-isu sensitif seputar Pilkada DKI Jakarta yang membuat dampak psikologis bagi pasar untuk sedikit menahan pembelian propertinya.

“Karena itu, memasuki 2018 diperkirakan pasar perumahan akan tetap berada dalam posisi tren naik dan semakin meningkat sampai akhir semester I/2018,” jelas Ali.

Hal ini juga disambut oleh beberapa pengembang yang sudah mulai meluncurkan produk-produk barunya di awal-awal 2018. Sehingga pasar perumahan pada semester I/2018 diperkirakan relatif lebih aktif dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Tag : ipw, perumahan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top