Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penjualan Elektronik Masih Rendah

Gabungan Pengusaha Elektronik menyatakan volume penjualan barang sepanjang tahun ini turun sekitar 20% - 40% dibandingkan tahun lalu akibat masih rendahnya daya beli masyarakat.
Muhammad Abdi Amna
Muhammad Abdi Amna - Bisnis.com 06 November 2015  |  20:04 WIB
Pedagang menata barang elektronik yang dijual di kawasan Glodok, Jakarta.
Pedagang menata barang elektronik yang dijual di kawasan Glodok, Jakarta.

Bisnis.com, JAKARTA—Gabungan Pengusaha Elektronik menyatakan volume penjualan barang sepanjang tahun ini turun sekitar 20%  - 40% dibandingkan tahun lalu akibat masih rendahnya daya beli masyarakat.

Ali Soebroto Oentaryo, Ketua Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel), mengatakan penurunan daya beli masyarakat secara langsung berdampak pada kondisi keuangan perusahaan elektronik skala menengah di Tanah Air.

“Secara volume, penurunan paling dirasakan oleh perusahaan besar, tetapi perusahaan besar memiliki tingkat ketahanan yang tinggi, sementara perusahaan skala menengah sangat sensitif dengan pasar,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (5/11/2015).

Penurunan permintaan pasar disiasati oleh produsen di dalam negeri dengan menurunkan volume produksi. Strategi ini dilakukan guna menjaga kondisi keuangan perusahaan, sehingga dapat bertahan hidup hingga pasar kembali normal.

Produsen barang elektronik, menurutnya tidak dapat memprediksi perbaikan pasar. Dalam kondisi ini, hanya peran pemerintah yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat melalui realisasi belanja APBN yang efektif dan sesuai rencana.

Dia mengatakan dalam periode 2007-2012 peran sektor manufaktur terhadap ekonomi nasional turun hingga US$50 miliar. Namun, dalam masa ini sektor komoditas tengah mencapai pertumbuhan terbaik. Ketika harga komoditas anjlok, sektor manufaktur nasional tengah berada di level terendah.

“Sekarang bagaimana caranya memperbaiki fundamental industri. Pemerintah harus cermat memperhatikan satu per satu keberlangsungan industri. Elektronik ini hanya kebutuhan sekunder sehingga ketika daya beli turun, belanja elektronik pasti dikurangi konsumen,” katanya.

Salah satu indikator penurunan daya beli masyarakat yang begitu dalam pada tahun ini, lanjutnya, adalah turunnya penjualan produk telepon seluler. Secara historis, produk ponsel memiliki tingkat ketahanan yang lebih tinggi di Indonesia.

Di tengah penurunan daya beli serta peningkatan ongkos produksi akibat fluktuasi nilai tukar rupiah, lazimnya produsen elektronik mengeluarkan inovasi produk untuk menarik minat konsumen. Namun, inovasi produk berisiko tinggi di tengah penurunan penjualan yang begitu dalam pada tahun ini.

Cara paling efektif meningkatkan daya beli, menurutnya adalah mempercepat realisasi belanja pemerintah. Agar ekonomi nasional kembali pulih, tahun depan pemerintah harus bisa menjamin realisasi belanja sesuai dengan rencana yakni sejak bulan Januari.

Pasalnya, sejumlah paket kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah bersifat jangka panjang. Dalam kondisi saat ini, pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan jangka pendek untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

elektronik gabel
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top