Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Makanan dan Minuman Berkeras Minta Insentif Ekspor

Produsen makanan dan minuman olahan meminta insentif kredit ekspor untuk memperkuat kinerja ekspor di tengah apresiasi dolar AS terhadap rupiah.
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 16 Maret 2015  |  22:36 WIB
Industri Makanan dan Minuman Berkeras Minta Insentif Ekspor
Produsen makanan dan minuman olahan meminta insentif kredit ekspor untuk memperkuat kinerja ekspor di tengah apresiasi dolar AS terhadap rupiah. -

Bisnis.com, JAKARTA—Produsen makanan dan minuman olahan meminta insentif kredit ekspor untuk memperkuat kinerja ekspor di tengah apresiasi dolar AS terhadap rupiah.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan untuk mengurangi dampak negatif dari ketergantungan impor bahan baku saat dolar AS terapreaisasi maka industri harus tingkatkan ekspor.

Sejalan dengan program stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Presiden Joko Widodo, produsen makanan dan minuam (mamin) olahan meminta diberi insentif ekspor. Skema ini diyakini bakal jadi pendongkrak kinerja sektor mamin untuk jangka pendek.

"Income ekspor dalam dolar AS, pinjaman juga dalam dolar AS sehingga tidak ada resiko mata uang dan depresiasi rupiah dan bisa ikuti kurs internasional," ucap Adhi kepada Bisnis, di Jakarta, Senin (16/3/2015).

Pada dasarnya kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah diupayakan melalui insentif fiskal untuk sektor industri yang fokus menjual produk ke pasar global serta memiliki pangsa ekspor besar. Insentif ekspor diyakini bisa mendongkrak ekspor mamin sekitar 15% dari kisaran US$6 miliar per tahun.

Bunga kredit ekspor murah yang diminta Gapmmi pernah diterapkan saat era Orde Baru. Pengusaha lebih memilih insentif ini ketimbang relaksasi fiskal tax holiday dan tax allowance karena  dinilai kurang efektif untuk jangka pendek.

"Pemerintah sebetulnya tidak beri subsidi tetapi memfasilitasi pinjaman luar negeri yang diawasi pemerintah. Kalau kita ikut Singapore Interes jadi tanpa penambahan country risk," kata Adhi.

Kredit ekspor merupakan kredit yang diberikan dalam rupiah atau mata uang asing kepada eksportir atau pemasok. Pendapatan ekspor berupa dolar AS disertai kredit juga dalam mata uang yang sama artinya tidak ada resiko. “Bunga rupiah mahal karena ada resiko,” katanya.

Industri mamin adalah salah satu tulang punggung industri nonmigas dengan kontribusi mencapai 30% dari Produk Domestik Bruto (DPB) nonmigas. Data Gapmmi menunjukkan pertumbuhan kinerja industri bertumbuh 8% dengan nilai sekitar Rp1.014 triliun pada 2014 dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya senilai Rp940 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri makanan dan minuman makanan dan minuman
Editor : Setyardi Widodo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top