TARIF LISTRIK: TDL Naik, Inflasi Bakal Membengkak Lebih Tinggi

Alasan perlakuan adil pemerintah dalam upaya menaikan tarif listrik pada perusahaan (perseroan terbatas/PT) nonpublik akan berimbas pada naiknya tingkat inflasi dari Mei 2014 yang sebesar 0,16%. Bahkan, inflasi diprediksi akan lebih tinggi dari masa puasa dan lebaran tahun-tahun sebelumnya yang selalu menunjukkan tren angka yang tinggi.
Kurniawan A. Wicaksono
Kurniawan A. Wicaksono - Bisnis.com 07 Juni 2014  |  02:42 WIB
TARIF LISTRIK: TDL Naik, Inflasi Bakal Membengkak Lebih Tinggi
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Alasan perlakuan adil pemerintah dalam upaya menaikan tarif listrik pada perusahaan (perseroan terbatas/PT) nonpublik akan berimbas pada naiknya tingkat inflasi dari Mei 2014 yang sebesar 0,16%. Bahkan, inflasi diprediksi akan lebih tinggi dari masa puasa dan lebaran tahun-tahun sebelumnya yang selalu menunjukkan tren angka yang tinggi.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Sri Adiningsih menyatakan efek penghematan subsidi listrik tersebut berpengaruh besar terhadap besarnya inflasi mengingat lebaran ada di pertengahan Juli.

“Tentu saja. Dampaknya [dari kenaikan TDL] inflasi naik. Tampaknya inflasi lebih tinggi apalagi kalau rupiah terus melemah dan berbarengan dengan lebaran,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis.com, Jumat (6/6/2014).

Menurutnya, ada tiga faktor yang mempengaruhi pembengkakan inflasi pada kuartal II dan III/2014, yakni kenaikan tarif listrik, pelemahan kurs rupiah, dan peningkatan konsumsi menjelang lebaran.

Inflasi yang besar dalam masa lebaran selalu menjadi gejala musiman, tetapi dengan adanya kenaikan tarif listrik tersebut kecenderungannya akan lebih besar kembali. Walaupun baru berlaku Juli, peningkatan konsumsi sudah akan terjadi di Juni karena masa puasa dan persiapan lebaran.

Sri mengatakan masih banyaknya impor barang konsumsi dan barang bahan baku/penolong juga harus diwaspadai oleh pemerintah.

Seperti diketahui, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada April 2014, impor barang ke Indonesia senilai US$16.256,3 juta, mengalami kenaikan jika dibandingkan Maret 2014 senilai US$14.523,7 juta. Adapun persentase impor barang baku atau penolong masih menempati posisi tertinggi, yakni US$12.446,9 juta.

Dia mengharapkan pemerintah berupaya untuk menjaga ketersedian barang, sehingga mobilitas barang pun tidak tercukupi.

“Pemerintah dan Bank Indonesia harus berusaha agar barang dan likuiditasnya terjaga,” ujarnya.

Walaupun demikian, Menteri Keuangan Chatib Basri menyatakan efek kenaikan listrik yang diklaim berpotensi menghemat Rp8,51 triliun tersebut berpengaruh kecil pada kenaikan inflasi.

“TDL [tarif daya listrik] efeknya [ke inflasi] kecil, sekitar 0,1%-0,2%,” ujarnya ketika ditemui seusai menghadiri acara Penganugerahan Penghargaan Wirakarya Adhitama di Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi, kenaikan tdl

Editor : Nurbaiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top