Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Jepang menunggu langkah Presiden AS Donald Trump yang bakal mengeluarkan perintah eksekutif untuk memangkas tarif mobil dan suku cadang asal Jepang, usai kesepakatan dagang dicapai pada Juli lalu.
Melansir Bloomberg pada Jumat (29/8/2025), kepala negosiator perdagangan Jepang, Ryosei Akazawa, menyatakan dirinya kemungkinan akan kembali berkunjung ke AS setidaknya satu kali lagi sebelum pemerintahan Donald Trump menerbitkan perintah eksekutif tersebut.
“Saat ini, kemungkinan besar saya akan mengunjungi AS setidaknya sekali sebelum perintah eksekutif dikeluarkan,” ujar Akazawa yang juga merupakan Menteri Revitalisasi Ekonomi Jepang, dalam konferensi pers usai rapat kabinet.
Akazawa menambahkan, setelah konsultasi administratif diselesaikan, konsultasi antarmenteri masih dibutuhkan. Dia juga menyebut ada sejumlah pembahasan yang harus dituntaskan sebelum perjanjian dapat diimplementasikan.
Akazawa, yang memimpin upaya Jepang meraih kesepakatan dagang dengan AS, membatalkan kunjungannya ke Washington pada menit terakhir, Kamis (28/8/2025), karena masih dibutuhkan pembahasan administratif tambahan. Dia menambahkan, tim Jepang saat ini tengah berada di AS untuk melanjutkan diskusi dengan mitra Amerika.
Pernyataan itu muncul ketika Tokyo terus mendesak Washington untuk segera melaksanakan kesepakatan penurunan tarif yang dicapai pada akhir Juli. Pakta tersebut mencakup pengurangan bea masuk untuk mobil dan suku cadang otomotif asal Jepang. Namun, AS belum juga menindaklanjuti implementasi kesepakatan itu.
Jepang mendesak AS menurunkan tarif mobil dan suku cadang dari 25% menjadi 15%, sekaligus menghapus penumpukan bea masuk sebelumnya di atas tarif universal 15%. Tuntutan tersebut hanya dapat terealisasi melalui penerbitan perintah eksekutif oleh Presiden Trump.
Akazawa sebelumnya menekankan bahwa setelah AS dan Inggris menandatangani pakta dagang, butuh waktu 54 hari hingga berlaku efektif. Hal ini mengisyaratkan bahwa kesepakatan dagang Jepang–AS yang dicapai pada 22 Juli kemungkinan baru mulai berlaku paling cepat pertengahan September.
Sementara itu, berbagai negara masih berupaya menavigasi perubahan lanskap perdagangan global sejak Trump melancarkan kampanye tarif hanya beberapa bulan setelah menjabat.
Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva pekan ini mengizinkan proses retaliasi atas tarif 50% yang diberlakukan Trump, sedangkan hubungan dagang AS–India juga makin renggang akibat kebijakan tersebut.
Adapun Uni Eropa tengah mengajukan proposal untuk menghapus seluruh tarif atas barang industri AS, memberikan perlakuan preferensial pada produk pertanian dan perikanan tertentu, serta memperpanjang perlakuan bebas bea bagi produk lobster asal AS, sebagai imbal balik atas bea masuk AS terhadap mobil dan suku cadang Eropa.
“Kami telah berulang kali menegaskan pentingnya implementasi yang setia dan tepat waktu dari kesepakatan Jepang–AS. Hal ini baru akan dilaksanakan setelah semua poin yang masih harus diselesaikan benar-benar tuntas,” kata Akazawa.