Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kala Depresiasi Rupiah Hantui Kinerja Pertamina

Ekonom sarankan PT Pertamina (Persero) untuk segera memitigasi dampak pelemahan rupiah atas potensi beban impor dan nilai tukar tahun ini.
Ekonom sarankan PT Pertamina (Persero) untuk segera memitigasi dampak pelemahan rupiah atas potensi beban impor dan nilai tukar tahun ini. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Ekonom sarankan PT Pertamina (Persero) untuk segera memitigasi dampak pelemahan rupiah atas potensi beban impor dan nilai tukar tahun ini. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Associate Director BUMN Research UI Toto Pranoto menyarankan PT Pertamina (Persero) untuk segera memitigasi dampak pelemahan rupiah atas potensi beban impor dan nilai tukar tahun ini.

Apalagi, kata Toto, belakangan harga minyak mentah dunia kembali menguat. Otoritas minyak memproyeksikan harga minyak di pasar dunia bisa menyentuh level US$100 per barel akibat tensi Iran-Israel.

“Apabila Pertamina terlambat antisipasi, tentu struktur biaya mereka akan meningkat tajam, terutama komponen impor BBM,” kata Toto saat dihubungi, Rabu (17/4/2024).

Konsekuensinya, kata Toto, kemampuan Pertamina bakal relatif terbatas apabila krisis di Timur Tengah berlangsung panjang dan depresiasi rupiah terus berlanjut.

Dengan demikian, kata dia, beban subsidi dan kompensasi bakal makin lebar. Kecuali, dia mengatakan, terdapat kebijakan penyesuaian harga nantinya di tengah masyarakat.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali ditutup turun ke level Rp16.220 pada perdagangan Rabu (17/4/2024). Rupiah melemah bersama beberapa mata uang Asia lainnya.

Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 0,28% ke Rp16.220 per dolar AS. Adapun indeks dolar AS menguat 0,02% ke 106,27.

Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia ditutup bervariasi. Yen Jepang naik 0,06%, dolar Singapura naik 0,12%, dolar Taiwan naik 0,07%, won Korea Selatan naik 0,57%, dan peso Filipina turun 0,35%.

Kemudian rupee India turun 0,11%, yuan China stagnan, ringgit Malaysia menguat 0,08%, dan baht Thailand turun 0,42%.

“Kombinasi strategi keuangan seperti natural hedging, kontrak forward dan sejenisnya bisa menjadi alternatif bagi Pertamina untuk mitigasi atas depresiasi yang dihadapi rupiah saat ini,” tuturnya.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menjajaki dialog untuk renegosiasi kontrak mata uang asing ke rupiah di tengah tren penguatan dolar AS pada perdagangan pekan ini.

Manuver itu diambil perusahaan migas pelat merah untuk menghadapi tekanan nilai tukar.

“Kami menjajaki dialog untuk renegosiasi kontrak mata uang asing ke rupiah,” kata VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso saat dihubungi, Rabu (17/4/2024).

Selain itu, kata Fadjar, Pertamina turut menjalankan efisiensi pada porsi belanja modal dan operasional perseroan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan subsidi dan kompensasi BBM serta LPG 3 kilogram (kg) bakal makin melebar dari asumsi APBN 2024 akibat konflik Iran vs Israel.

Lewat simulasi yang disusun Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero), apabila harga Indonesia Crude Price (ICP) parkir di level US$100 per barel dengan kurs Rp15.900 maka anggaran subsidi dan kompensasi BBM serta LPG 3 Kg bakal melebar ke Rp356,14 triliun dari pagu yang disiapkan dalam APBN tahun ini.

Perinciannya, subsidi BBM dan kompensasi BBM naik ke level Rp249,86 triliun dari asumsi APBN 2024 di level Rp160,91 triliun. Sementara, subsidi LPG 3 Kg naik menjadi Rp106,28 triliun dari asumsi APBN 2024 sebesar Rp83,27 triliun.

Seperti diketahui, sensitivitas asumsi dasar ekonomi makro (ADEM) APBN mengikuti pola setiap kenaikan ICP US$1 per barel bakal berdampak pada kenaikan PNBP Rp1,8 triliun, kenaikan subsidi energi Rp1,7 triliun dan kompensasi energi mencapai Rp5,3 triliun.

Sementara, setiap kenaikan kurs rupiah Rp100 per dolar AS bakal berdampak pada PNBP sebesar Rp1,8 triliun, kenaikan subsidi energi Rp1,19 triliun dan kompensasi energi Rp3,89 triliun.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper