Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konglomerat China Gagal Beli Mal Rp10,76 Triliun di Singapura, Ada Apa?

Rencana transaksi pembelian mal di Singapura bernilai fantastis yaitu Rp10,76 triliun oleh Konglomerat China gagal dilaksanakan. Apa penyebabnya?
Orchard Road di Singapura
Orchard Road di Singapura

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu entitas usaha milik konglomerat asal China, yakni Du Shuanghua dikabarkan gagal meminang salah satu mal yang berlokasi di kawasan belanja Orchard Road Singapura.

Melansir laporan Bloomberg, rencana transaksi bernilai jumbo itu terjegal usai pihak berwenang menyebut proposal yang diajukan oleh entitas usaha Du Shuanghua tidak memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh Urban Redevelopment Authority (URA).

"Rencana kesepakatan besar yang didukung oleh miliarder komoditas asal Tiongkok untuk membeli sebuah mal di distrik perbelanjaan utama Singapura dengan nilai sekitar US$670 juta (atau senilai Rp10,75 triliun) berantakan setelah rencana pembangunan kembali ditolak oleh pihak berwenang," tuturnya dalam laporan Bloomberg, dikutip Senin (15/4/2024).

Gagalnya rencana transaksi jumbo oleh Du Shuanghua tersebut lantas kian disorot. Pasalnya, pasar Singapura dan China banyak yang telah menanti transaksi tersebut, karena diharapkan mampu memantik geliat pasar properti Tiongkok untuk kembali bergairah.

Terlebih, konsultan properti Cushman & Wakefield menyebut apabila jual-beli itu terealisasi, maka transaksi tersebut bakal dinobatkan menjadi yang terbesar di Singapura untuk kategori properti komersial sepanjang 2023.

Gagalnya proses jual-beli pusat perbelanjaan Far East Shopping Centre juga sebelumya digadang-gadang bakal menjadi angin segar di pasar properti wilayah Singapura hingga China yang belakangan menunjukkan tren pelemahan.

Di samping itu, transaksi tersebut juga merupakan transaksi besar yang langka di pasar yang terpukul oleh berkurangnya permintaan dari pembeli institusional karena suku bunga yang tinggi.

Sementara itu, EdgeProp.sg, sebuah portal properti di Singapura, dan Business Times sebelumnya sempat melaporkan rincian kesepakatan tersebut.

Diinformasikan bahwa, CBRE Group Inc, bakal menjadi perantara dalam transaksi tersebut. Namun, hingga saat ini pihaknya enggan memberikan komentar atas hal tetsebut.

Di samping itu, Bright Ruby Resources Pte, sebuah perusahaan komoditas di Singapura yang dikendalikan oleh Du, juga tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Adapun, salah satu prasyarat untuk transaksi ini adalah persetujuan penambahan luas lahan yang disebut Insentif Pengembangan Strategis Singapura untuk meremajakan area-area di pusat kota, termasuk Orchard Road.

URA mengonfirmasi bahwa mereka menolak proposal pembangunan kembali, dengan mengatakan bahwa satu-satunya lokasi tersebut tidak memenuhi kriteria kelayakan. Di mana, skema SDI [strategic development incentive] mensyaratkan proposal untuk menyertakan minimal dua lokasi yang berdekatan.

"Sehingga, pembangunan kembali yang digabungkan dapat memberikan dampak transformasi yang kuat yang akan meningkatkan dan meremajakan area tersebut," pungkas manajemen URA.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper