Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

ADB Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5% pada 2024 dan 2025

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2024 dan 2025 diproyeksi 5% oleh Asian Development Bank (ADB).
Gedung-gedung di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta pada Kamis (15/2/2024). - Bloomberg/Muhammad Fadli
Gedung-gedung di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta pada Kamis (15/2/2024). - Bloomberg/Muhammad Fadli

Bisnis.com, JAKARTA – Asian Development Bank (ADB) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5% pada 2024 dan 2025.

ADB memperkirakan permintaan di dalam negeri akan terus mendorong pertumbuhan dan mengimbangi kontribusi yang lebih lemah dari ekspor neto.

“Konsumsi swasta yang kuat, belanja infrastruktur publik, dan investasi yang secara bertahap membaik akan membantu menopang pertumbuhan PDB,” tulis ADB dalam laporan Asian Development Outlook yang diterbitkan pada Kamis (11/4/2024).

Konsumsi domestik diproyeksikan tetap kuat, sementara investasi kemungkinan tetap stabil. Hal ini tercermin dari tren keyakinan konsumen dan penjualan ritel yang secara umum berada pada tingkat sebelum pandemi. 

Selain itu, pengeluaran terkait Pemilu, program bantuan sosial pemerintah, kenaikan gaji pegawai negeri sipil pada 2024, dan perkiraan inflasi yang lebih rendah selama periode proyeksi diperkirakan akan mendorong konsumsi. 

Menurut ADB, kinerja investasi kemungkinan tetap stabil tahun ini dan meningkat tahun depan, yang didorong oleh proyek-proyek pemerintah dan kebijakan reformasi struktural sebelumnya. 

Pemerintahan juga dinilai akan mempercepat proyek-proyek infrastruktur dan Ibu Kota yang diprioritaskan hingga pemerintahan baru mulai menjabat pada bulan Oktober.

Sementara itu, investasi swasta diperkirakan meningkat pada tahun 2025 seiring dengan pemerintahan baru yang telah menetapkan rencana-rencana mereka dan memudarnya sikap wait & see dunia usaha terhadap investasi. 

Lebih lanjut, kinerja manufaktur diperkirakan terus tumbuh sejalan dengan ekspansi berkelanjutan PMI manufaktur selama 30 bulan terakhir. Implementasi bertahap dari Omnibus Law Cipta Kerja juga akan membantu mendorong investasi pada 2025.

Lemahnya harga komoditas dan pertumbuhan global diperkirakan akan menghambat ekspor barang, sehingga memperlebar defisit transaksi berjalan. 

Peningkatan impor, terutama terkait dengan prospek investasi yang lebih kuat, juga cenderung memperlebar defisit transaksi berjalan. Akibatnya, rupiah dapat melemah tahun ini terhadap dollar AS. 

Namun demikian, aliran masuk investasi portofolio dan investasi langsung diperkirakan akan menjaga neraca pembayaran secara keseluruhan tetap surplus selama periode perkiraan. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper