Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Karpet Merah Investor China Cs di Sektor Farmasi & Alat Kesehatan di RI

Pemerintah merangsang pasar farmasi dan alat kesehatan melalui berbagai pengadaan, selain memberikan iming-iming insentif fiskal kepada para investor.
Pedagang obat melayani pembeli di Pasar Pramuka, Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pedagang obat melayani pembeli di Pasar Pramuka, Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA- Mimpi Indonesia menjadi hub manufaktur industri farmasi dan alat kesehatan mulai tampak nyata. Perlahan, investasi pembangunan pabrik di sektor kesehatan membanjir setelah disuguhkan berbagai insentif dari pemerintah, terutama pemodal dari China.

Tak hanya stimulus fiskal bagi investor, jaminan belanja pemerintah melalui Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) yang diggelontorkan untuk kebutuhan industri kesehatan dalam negeri pun melimpah.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara bertahap meningkatkan anggaran belanja alat kesehatan pascapandemi pada 2022 sebesar Rp3,2 triliun dan meningkat hingga Rp10 triliun pada 2023.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan belanja produk alat kesehatan dalam negeri akan ditingkatkan melalui porsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga pinjaman luar negeri.

"Tahun lalu [2023] saya meningkatkan anggaran untuk alat kesehatan Rp10 triliun, tahun selanjutnya [2024] mungkin kisaran Rp14-15 triliun. Kami akan menyebarkan US$4 miliar pinjaman World Bank untuk 3-4 tahun ke depan," kata Budi, dikutip Kamis (14/3/2024).

Dia meminta investor asing maupun dalam negeri untuk tidak ragu menanamkan modal dan ekspansi bisnis di sektor kesehatan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan alkes dalam negeri yang masih terbatas.

Apalagi, Indonesia disebut memiliki potensi besar dalam hal pengeluaran perawatan kesehatan. Budi mencatat pengeluaran per kapita rata-rata di Indonesia sebesar US$142 per kapita per tahun dengan rata-rata hidup 72 tahun.

"Jadi semakin banyak perusahaan mengembangkan manufaktur di Indonesia, jangan ragu kita akan membeli dari mereka. Jika banyak yang bilang itu adalah proteksi, bukan hanya itu, itu juga untuk perawatan kesehatan yang akan kita kejar," ujarnya.

POTENSI PASAR ALAT KESEHATAN

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian melihat industri alat kesehatan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar. Pada tahun 2023, industri alat kesehatan Indonesia menyumbang devisa negara sebesar US$209,4 juta atau sekitar Rp3,3 triliun.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pertumbuhan industri alat kesehatan di Indonesia semakin berkembang pesat. Pada 2021, pasarnya bernilai US$3,5 miliar atau Rp54,7 triliun dan diperkirakan tumbuh menjadi US$6,5 miliar atau setara dengan Rp101 triliun pada tahun 2026. 

"Indonesia akan menjadi negara tujuan yang menarik bagi investor alat kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan signifikan dalam jumlah produsen peralatan kesehatan yang beroperasi di Indonesia," ujar Agus.

Hal ini juga disebut dapat membuat Indonesia lepas dari ketergantungan impor alat kesehatan dan farmasi selama ini. Pada 2019-2020 tercatat transaksi alat kesehatan melalui e-katalog 88% masih didominasi produk impor.

Dalam hal ini, dia juga menyebutkan sejumlah insentif yang diguyur pemerintah Indonesia berupa skema Tax Holiday dan Mini Tax Holiday. Keduanya merupakan fasilitas pengurangan pajak penghasilan badan atas penghasilan yang diperoleh dari kegiatan usaha utama, khusus untuk penanaman modal baru dan ekspansi.

Bahkan, pemerintah juga menawarkan Tax Allowance, yaitu fasilitas pengurangan penghasilan kena pajak yang dihitung berdasarkan besarnya investasi yang dilakukan pada domain dan wilayah usaha tertentu.

"Dan yang lebih penting lagi, salah satu insentif yang paling menguntungkan bagi industri adalah Super Deduction Tax, yang merupakan pengurangan pendapatan kotor hingga 300%," jelasnya.

Adapun, insentif tersebut ditawarkan kepada perusahaan yang terlibat dalam program pendidikan kejuruan atau vokasi, termasuk upaya penelitian dan pengembangan untuk mendorong inovasi.

INVESTOR FARMASI dan ALKES

Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki) menyebut salah satu faktor pendorong pertumbuhan alat kesehatan nasional yaitu belanja pemerintah. Semakin produktif belanja pemerintah untuk industri kesehatan maka optimisme pelaku usaha semakin bergairah.

Sekretaris Jenderal Aspaki Cristina Sandjaja mengatakan pengeluaran pemerintah juga dapat mendorong peningkatan volume kapasitas produksi, pengembangan produk dengan Research & Development (R&D) swadata hingga peningkatan eksposur ke pasar global.

"Pasar Alkes saat ini baru sekitar 30% diisi produk lokal, sisanya impor, jadi masih perlu intervensi kebijakan pemerintah, dan stimulus," kata Cristina kepada Bisnis, Rabu (13/3/2024).

Dengan guyuran stimulus pemerintah, tak heran jika gula manis tersebut mulai dikerubungi investor. Misalnya, produsen alat kesehatan asal China, Virtue Diagnostics yang telah berinvestasi US$10 juta untuk membangun pabrik In Vitro Diagnostics (IVD).

Pabrik itu memproduksi alat kesehatan yang digunakan untuk spesimen dari dalam tubuh manusia seperti darah, rambut dan lainnya. Ke depannya, mereka akan memproduksi 1.000 unit instrumen per tahun dan 6.000 liter reagen per hari.

"Saya dengan senang hati mengumumkan pendirian resmi Virtue Diagnostics Indonesia, produsen IVD terbesar di Asia Tenggara dengan luas 12.200 meter persegi dan luas bangunan 8.900 meter persegi," terangnya.

Di sisi lain, PT Esa Medika Mandiri (ESA Group) bersama Weigao International Holding Comporation Pte. Ltd. (WEIGAO Group) berkolaborasi untuk membangun pabrik benang bedah di Indonesia dengan standard internasional

Adapun, keduanya menggelontorkan dana untuk pembangunan pabrik sebesar US$3 juta di luar tanah dan bangunan. Untuk tahap pertama, investasi yang ditanamkan sebesar US$1,5 juta.

Vivienne Zhang, sebagai Deputy General Manager WEIGAO Group mengatakan Produk alat kesehatan hasil kerjasama ini pun akan di export ke negara ASEAN lainnya.

"Harapannya Indonesia tidak hanya menerima produk impor aja, tapi juga bisa memproduksi di Indonesia untuk di gunakan seluruh dunia," pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper