Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kementan Ingin Kurangi Impor Beras, Genjot Pengairan Jutaan Lahan Kering

Kementan berencana melakukan pengairan lahan kering untuk mengurangi impor beras RI.
Beras impor dari Vietnam sebanyak 5.000 ton tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (16/12/2022) / BISNIS-Annasa Rizki Kamalina.
Beras impor dari Vietnam sebanyak 5.000 ton tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (16/12/2022) / BISNIS-Annasa Rizki Kamalina.

Bisnis.com, JAKARTA -  Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut ada dua juta hektare lahan kering atau tadah hujan di Pulau Jawa yang memerlukan pengairan. Instalasi pompa air diklaim dapat meningkatkan produksi beras dan menekan impor beras.

Direktur Jenderal Prasaranan dan Sarana Pertanian, Kementan, Ali Jamil mengatakan pihaknya bakal memaksimalkan pemanfaatan lahan kering untuk padi paling tidak satu juta hektare.

Adapun untuk mengejar target tersebut, kata dia, lahan-lahan kering tersebut akan segera dipasang pompa air melalui sungai-sungai yang ada.

"Misalnya 500.000 hektare di Pulau Jawa, dan 500.000 hektare lainnya di luar Pulau Jawa. Termasuk di Lamongan," ujar Ali Jamil dalam keterangannya, Selasa (19/3/2024).

Dia mengklaim melalui sistem pompa air di lahan kering tersebut bakal meningkatkan indeks tanam padi menjadi tiga kali dalam setahun atau IP300. Menurutnya, selama ini lahan kering atau tadah hujan hanya mampu memproduksi satu kali dalam setahun.

Adapun Indonesia mempunyai potensi lahan kering tadah hujan hingga 3 juta hektare.

"Apabila ini berhasil, maka Indonesia dalam waktu dekat tidak perlu bergantung pada kebijakan impor," ucapnya.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mendesak agar memaksimalkan gerakan pengairan lahan kering lewat sistem pompa. Dia menilai bahwa instalasi pompa air menjadi solusi mempercepat produksi beras saat tidak semua daerah diguyur hujan.

"Artinya, Masih ada daerah-daerah kering akibat dilanda El Nino Gorilla alias musim kering ekstrem yang berujung pada darurat pangan," ujar Mentan Amran.

Adapun untuk implementasi pengairan lahan sawah tadah hujan melalui sistem pompa dilakukan di lahan dekat sungai-sungai yang tidak pernah mengalami kekeringan.

"Air dari sungai-sungai tersebut dialirkan pada lahan-lahan sawah dengan indeks pertanamannya 1 atau maksimal 2 kali dalam setahun sehingga ke depan bisa dinaikkan menjadi 3 sampai 4 kali setahun," ucap Amran.

Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi mengatakan penanaman padi di periode Maret - April ini menjadi pertaruhan kondisi perberasaan di pertenghan tahun. Menurutnya, apabila penanaman padi di periode tersebut lebih dari 1 juta hektare, diperkirakan Indonesia tidak akan kekurangan beras pada musim gadu di Juli 2024.

"Maka bulan 7 kita tetap masih punya beras di atas 2,5 juta ton," ujar Arief, dikutip Selasa (5/3/2024).

Sebaliknya, krisis beras jilid dua berisiko terjadi saat penanaman pada Maret-April tidak berjalan mulus karena iklim. Kendati begitu, Arief mengatakan, pemerintah telah bersiap dengan stok cadangan beras pemerintah (CBP) untuk melakukan intervensi saat krisis terjadi. 

"Pemerintah sudah bersiap dengan CBP-nya karena Juli-akhir tahun dan awal tahun adalah masa pemerintah melakukan intervensi," ucapnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Rachmawati
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper