Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

RI Gencar Hilirisasi, Tapi Ekspor Anjlok? Wamendag Bilang Begini

Wamendag Jerry Sambuaga angkat bicara ihwal anjloknya nilai ekspor Indonesia pada Januari 2024. Ini penjelasannya.
Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Aktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (22/6/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, SEMARANG - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga angkat bicara ihwal anjloknya nilai ekspor Indonesia pada Januari 2024. Tercatat, nilai ekspor nasional mencapai US$20,52 miliar, turun 8,06% dari periode yang sama tahun lalu.

Jerry menegaskan, anjloknya ekspor Indonesia dipicu oleh fluktuasi harga komoditas global. Untuk itu, pemerintah terus menggenjot hilirisasi untuk memberi nilai tambah terhadap perekonomian nasional.

“Kalau itu nggak hilirisasi mungkin akan lebih drop lagi,” kata Jerry di sela-sela rapat kerja Kemendag 2024, dikutip Rabu (21/2/2024).

Politisi Golkar ini menuturkan, kebijakan hilirisasi yang digaungkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini merupakan salah satu upaya untuk menyejahterakan masyarakat.

Pasalnya, kebijakan ini memberikan banyak manfaat positif, mulai dari penciptaan lapangan kerja, hingga memberikan kepastian bahwa produk dalam negeri dapat ekspansi ke kancah internasional.

“Tentunya kita bangga ketika produk-produk kita itu memiliki nilai tambah. Nikel contoh bisa jadi baterai untuk kendaraan listrik,” ujarnya.

Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan, sebelumnya mengungkapkan, penurunan ekspor Januari 2024 merupakan pola tahunan yang kerap terjadi pada awal tahun. 

Adapun, penurunan ekspor pada Januari 2024 ini sejalan dengan turunnya ekspor nonmigas sebesar 8,54% (month-to-month/mtm) dan ekspor migas sebesar 5,50% mtm.

“Namun nilai ekspor periode Januari 2024 lebih tinggi dibanding periode 2020, 2021, dan 2022,” jelas Zulhas melalui keterangan resminya, dikutip Rabu (21/2/2024).

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, penurunan ekspor nonmigas pada Januari 2024 terjadi pada sektor pertambangan dan industri pengolahan. Tercatat, ekspor sektor pertambangan anjlok sebesar 23,93%, sedangkan industri pengolahan turun 4,13% secara bulanan. 

Anjloknya ekspor tersebut dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas utama ekspor, seperti batu bara dan nikel, serta susutnya permintaan global akibat perlambatan ekonomi global.

Beberapa produk utama ekspor nonmigas yang mengalami kontraksi terdalam, diantaranya bijih, terak dan abu logam (HS 26) turun 41,26%; logam mulia, perhiasan/permata (HS 71) 35,61%; bubur kayu (HS 47) 21,42%; ampas/sisa industri makanan (HS 23) 21,20%; serta bahan bakar mineral (HS 27) 20,81%.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ni Luh Anggela
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper