Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Pangan Melambung, Irjen Kemendagri Minta Kementerian Setop Adu Data!

Kemendagri meminta jajaran kementerian dan lembaga terkait pengendalian inflasi pangan untuk fokus menyelesaikan persoalan kenaikan harga pangan.
Buruh melakukan bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (30/1/2023). Bisnis/Rachman
Buruh melakukan bongkar muat karung berisi beras di Gudang Bulog Divre Jawa Barat di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Senin (30/1/2023). Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meminta jajaran kementerian dan lembaga terkait pengendalian inflasi pangan fokus bekerja pada titik persoalan saat ini yaitu kenaikan harga pangan.

Saat membuka Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Inspektur Jenderal Kemendagri, Tomsi Tohir, meminta perwakilan pejabat yang hadir tidak bertele-tele memaparkan datanya masing-masing dan fokus pada persoalan kenaikan harga pangan di tengah masyarakat.

“Saya berharap kita bisa lebih fokus lagi, tidak usah panjang-panjang kita tahu sudah penyakitnya apa, beras naik, jagung naik, tepung naik, bawang putih naik,” kata Tomsi seperti dikutip dari siaran YouTube Kemendagri, Senin (19/2/2024).

Tomsi meminta kementerian dan lembaga tidak saling adu data yang bersifat non-operasional dalam rapat pengendalian inflasi tersebut.

Dia meminta diskusi yang lebih konkret untuk mengatasi reli kenaikan harga sebagian besar bahan pokok di tengah masyarakat saat ini.

“Teman-teman dari kementerian atau lembaga tidak perlu beradu data, datanya kan mirip-mirip saja sekarang bagaimana jalan keluarnya, kalau kita berteori terus sementara di luar harga naik terus, setiap Senin kita rapat tidak ada perubahan,” ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat sejumlah bahan pangan mengalami lonjakan harga usai Pemilu atau menjelang Ramadan 2024.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengatakan, cabai merah, minyak goreng, telur, daging ayam, beras dan gula pasir menjadi penyumbang kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan ketiga Februari 2024 di sejumlah daerah.

"Kalau kita lihat jumlahnya kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga untuk komoditas tersebut meningkat di minggu ketiga Februari 2024 ini," ujar Pudji dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi, Senin (19/2/2024).

Secara terperinci, komoditas dengan andil terbesar kenaikan IPH di Sumatra didominasi oleh cabai merah, daging ayam ras dan beras. Sedangkan, komoditas penyumbang terbesar kenaikan IPH di Pulau Jawa didominasi oleh beras, cabai merah dan daging ayam ras.

Adapun untuk di luar Sumatra dan Jawa kenaikan IPH didominasi oleh komoditas daging ayam ras, cabai rawit, beras dan cabai merah.

Pudji menjelaskan, harga beras secara nasional di pekan ketiga Februari 2024 kenaikan harga beras mencapai 2,92% dibandingkan dengan harga di Januari 2024. Adapun pada pekan ketiga Februari 2024 harga beras mencapai Rp14.380 per kilogram.

Dia menyebut kenaikan harga beras terjadi di 179 kabupaten/kota. Padahal pekan sebelumnya hanya 161 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras.

Bahkan, BPS mencatat sebanyak 20% wilayah di Indonesia memiliki harga beras di atas harga rata-rata nasional pada pekan ketiga Februari 2024.

Dia pun menekankan adanya risiko harga beras tetap tinggi seiring produksi tahun ini yang diperkirakan lebih rendah dari tahun lalu. BPS mengestimasikan, surplus beras di Maret 2024 hanya 970.000 ton jauh lebih rendah dibandingkan surplus di Maret 2023 mencapai 2,59 juta ton.

Lebih lanjut, Pudji membeberkan, secara kumulatif hingga pekan ketiga Februari 2024 harga cabai merah juga naik jika dibandingkan dengan Januari 2024. Rata-rata harga cabai merah secara nasional di minggu ketiga Februari 2024 mencapai Rp55.359 per kilogam.

Begitupun jumlah wilayah yang mengalami kenaikan harga cabai di pekan ketiga Februari 2024 mencapai 230 kabupaten/kota. Padahal pekan sebelumnya kenaikan harga cabai merah terjadi di 203 kabupaten/kota.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper