Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Menilik Kandungan Lumpur Lapindo yang Masih Aktif, Punya Harta Karun Incaran Dunia

Kandungan sumber daya alam yang berada di dalam lumpur lapindo menjadi incaran dunia, nilainya fantastis karena jarang ditemukan.
Restu Wahyuning Asih
Restu Wahyuning Asih - Bisnis.com 25 Mei 2023  |  12:08 WIB
Menilik Kandungan Lumpur Lapindo yang Masih Aktif, Punya Harta Karun Incaran Dunia
Area terdampak lumpur di area pengeboran minyak Brantas yang dikelola Lapindo

Bisnis.com, SOLO - Lumpur Lapindo mendadak menjadi perbincangan hangat netizen di media sosial pada beberapa waktu terakhir.

Netizen mempertanyakan kondisi terkini Sidoarjo yang menjadi korban semburan lumpur panas pada 2006 lalu.

Setidaknya sudah 17 tahun sejak 29 Mei 2006, Lapindo terus mengucurkan lumpur panas yang diprediksi akan terjadi hingga puluhan tahun.

Kini, sempuran lumpur panas itu sudah sangat besar hingga terlihat seperti lautan luas.

Seorang Youtuber bernama Aventurero Saputra memperlihatkan keadaan Lumpur Lapindo melalui video berjudul "LUMPUR LAPINDO TERKINI 2023".

Video yang diunggah pada April lalu itu memperlihatkan lumpur bercampur dengan air hujan hingga membuatnya seperti lautan luas.

Insiden tragis ini dulu mulanya terjadi karena pengeboran minyak bumi yang tidak sesuai dengan prosedur.

Namun ada juga pihak yang mengaitkan dengan insiden gempa Jogja, hingga berpengaruh kepada pergerakan tanah di daerah lain di Indonesia.

Harta karun Lumpur Lapindo

Lumpur Lapindo juga disebut memiliki kekayaan alam yang luar biasa, di mana di dalamnya tersimpan logam tanah jarang (rare earth) yang diburu dunia.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan kandungan logam tanah jarang yang terkandung di lumpur lapindo memiliki sejumlah sifat yang unik.

Dosen Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (UNAIR) Dr. rer. nat. Ganden Supriyanto, M.Sc memberikan penjelasan. Dia mengungkapkan pentingnya logam tanah jarang bagi pemanfaatan teknologi tinggi.

Ganden menuturkan bahwa logam tanah jarang atau rare earth di dalam rumus kimia sistem periodik masuk ke dalam golongan lantanida dan aktanida.

Selain masuk ke dalam golongan lantanida dan aktanida, logam tanah jarang juga disebut sebagai logam transisi. Logam itu sangat penting dan memiliki harga yang cukup tinggi karena digunakan untuk teknologi tinggi seperti campuran logam pada bidang meterologi.

“Logam tanah jarang ini sangat penting kaitanya pada beberapa bidang tertentu seperti bidang meterologi untuk pembuatan pesawat luar angkasa, lampu energi tinggi, dan semi konduktor. Sehingga logam tersebut sangat mahal, bahkan jauh lebih mahal dibandingkan emas, dan platina,” ucap Ganden dikutip dari laman resmi UNAIR.

Lebih lanjut, Gaden menjelaskan bahwa logam tanah jarang merupakan jenis logam lantanida dan aktinida yang meliputi beberapa logam di dalamya seperti litium, dan scandium.

Selama ini, litium banyak digunakan sebagai bahan pembuatan baterai, terutama baterai mobil listrik. Temuan logam itu terhitung penting kaitanya karena kedepan semua kendaraan harus bebas emisi, sehingga mobil listrik lebih banyak digunakan.

Selain potensi dari pemanfaatan litium, scandium juga memiliki potensi tak kalah besar. Scandium banyak digunakan sebagai bahan pembuatan lampu berteknologi tinggi, karena logam scandium memiliki daya tahan yang kuat, sehingga logamnya tidak meleleh meskipun lampu tersebut memiliki watt yang sangat tinggi.

Selain dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan lampu berteknologi tinggi, scandium juga banyak digunakan untuk semi konduktor.

“Penemuan logam tanah jarang di Lumpur Lapindo Sidoarjo memiliki potensi pemanfaatan yang sangat besar karena bernilai tinggi dan sangat penting untuk teknologi tinggi ke depan,” tutupnya.

Logam ini juga telah jarang ditemukan sejak abad ke-18. Hingga akhirnya sumber daya ini banyak dicari oleh dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lumpur lapindo lapindo sidoarjo sumber daya alam
Editor : Restu Wahyuning Asih

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top