Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Tekanan Utang Indonesia Hingga Serapan Dana IPO

Ulasan tentang persoalan utang Indonesia menjadi salah satu pilihan Bisnisindonesia.id, selain beragam kabar ekonomi dan bisnis lainnya.
Ilustrasi utang pemerintah Indonesia dalam mata uang rupiah dan dolar AS. JIBI/Himawan L Nugraha. rn
Ilustrasi utang pemerintah Indonesia dalam mata uang rupiah dan dolar AS. JIBI/Himawan L Nugraha. rn

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia setidaknya disebut dua kali dalam Global Risks Report 2023 yang diterbitkan World Economic Forum. Indonesia dimasukkan dalam negara dengan proporsi utang berdenominasi US$ yang tinggi, bersama Argentina dan Kolombia.

Indonesia juga disebut terkait dengan penyelenggaraan pemilihan umum untuk memilih pemimpin yang baru.

Terkait utang, World Economic Forum dalam Global Risks Report (GRP) 2023 menyebutkan jika kejatuhan ekonomi dunia relatif terkendali, pertumbuhan global diperkirakan melambat menjadi 2,7 persen pada tahun 2023. Dalam kondisi seperti itu, sekitar sepertiga ekonomi dunia akan menghadapi resesi teknis.

Ulasan tentang persoalan utang Indonesia menjadi salah satu pilihan Bisnisindonesia.id, selain beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik tersaji dari meja redaksi Bisnisindonesia.id.

Berikut intisari dari top 5 News Bisnisindonesia.id yang menjadi pilihan editor, Selasa (17/1/2023):

 

1. Di Balik Kinerja Ekspor RI 2022 Melambat Dalam Senyap

Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus pada 2022. Namun secara diam-diam, pertumbuhan ekspor melemah dalam empat bulan terakhir meski tetap tumbuh positif. Apa yang sebenarnya terjadi?

Neraca perdagangan mengalami surplus US$54,46 miliar pada 2022. Capaian ini tumbuh 53,76 persen dibandingkan dengan periode 2021. Angka tersebut merupakan capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Secara kumulatif, Badan Pusat Statistik (BPS) merekam total ekspor Indonesia selama Januari - Desember 2022 mencapai US$291,98 miliar. Sedangkan, impor menyentuh US$237,52 miliar selama 12 bulan. Artinya terdapat surplus US$54,46 miliar.

Meski masih mencatatkan kinerja apik, nyatanya pertumbuhan ekspor sedang menuju perlambatan. Laporan lembaga statistik ini menemukan bahwa harga komoditas unggulan mengalami penurunan secara bulanan. Komoditas yang dimaksud adalah, minyak dan lemak nabati alias minyak sawit mentah (CPO), bahan bakar mineral atau batu bara serta nikel.

 

2. Tekanan Utang Indonesia Bisa Bertambah, Bagaimana Mengatasinya?

Dalam Global Risks Report (GRP) 2023 disebutkan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi  akan dipimpin oleh pasar (negara) maju, dengan pertumbuhan diproyeksikan turun ke 1,1 persen pada 2023.

Sementara itu, ekonomi terbesar yakni Uni Eropa, China, dan Amerika Serikat terus menghadapi tantangan pertumbuhan. Masalahnya, negara berkembang harus siap menghadapi risiko tekanan ekonomi lebih lanjut dan pertukaran (trade-off) yang lebih keras.

Beban lebih tinggi harus siap dialami negara pengimpor energi. Mereka akan menanggung beban harga energi lebih tinggi yang berasal dari dolar AS yang menguat. Lebih parah lagi, kekuatan dolar yang terus berlanjut akan menyebabkan inflasi impor di seluruh dunia.

Dampak dolar juga akan terasa pada aliran modal global. Pasar negara berkembang harus menghadapi peningkatan kenaikan suku bunga. Hal itu terutama akan menjadi beban bagi negara dengan proporsi utang berdenominasi US4 yang tinggi. Dalam hal ini, GRP 2023 menyebut tiga negara yakni Argentina, Kolombia, dan Indonesia.

 

3. Fakta di Balik Pro Kontra Wacana Pembatasan Gas Elpiji 3 Kg

Rencana pemerintah melakukan transformasi subsidi dalam pendistribusian liquefied petroleum gas (LPG) ukuran 3 kg agar menjadi tepat sasaran telah menimbulkan keresahan di masyarakat.

Terlebih, dengan adanya wacana transformasi tersebut penjualan LPG tabung 3 Kg atau gas melon disebut-sebut hanya bisa dilakukan oleh penyalur resmi yang ditetapkan PT Pertamina (Persero). Itu artinya, penjualan eceran gas melon tidak lagi bisa ditemui di warung-warung seperti yang terjadi selama ini.

Namun, wacana pembatasan penjualan gas elpiji 3 Kg tentunya tidak bisa serta merta dilakukan tanpa adanya sosialisasi. Itu sebabnya, terdapat beberapa tahapan yang akan dilakukan pemerintah dalam transformasi subsidi LPG 3 Kg agar benar-benar dapat dinikmati oleh masyarakat yang berhak atau tepat sasaran.

Terkait dengan tidak lagi diperbolehkannya pengecer menjual elpiji bersubsidi, hal itu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pengawasan di lapangan, mulai dari tingkat agen hingga pangkalan.

 

4. Intip Serapan Dana IPO, dari BUKA hingga Emiten Grup Mayapada

Sejumlah emiten telah merealisasikan dana yang dihimpun dari penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) untuk memoles kinerja hingga ekspansi.

Misalnya saja, emiten teknologi PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) setidaknya telah menghabiskan dana IPO sebesar Rp7,81 triliun. BUKA telah mendapatkan hasil bersih penawaran umum senilai Rp21,3 triliun. Sementara dari jumlah tersebut, sebanyak Rp3,36 triliun telah direalisasikan untuk modal kerja.

Menyusul BUKA, emiten Hijab Aa Gym, PT Bersama Zatta Jaya Tbk. (ZATA) juga telah melaporkan dana hasil IPO telah diserap sejumlah Rp143,52 miliar dari hasil IPO sejumlah Rp170 miliar.  Dari dana tersebut, sebanyak Rp4,25 miliar digunakan untuk biaya penawaran umum.

Tak ketinggalan juga emiten properti Grup Mayapada, PT Maha Properti Indonesia Tbk. (MPRO) telah menyerap dana IPO sebesar Rp97,56 miliar dari hasil bersih penawaran umum senilai Rp164,17 miliar. Dari jumlah tersebut sebanyak Rp66,29 miliar telah digunakan untuk pembangunan proyek Simprug Signature.

 

5. Mewaspadai Sinyal Konflik Geoekonomi

Mulai mengemukanya isu geoekonomi menjadi alarm bagi perekonomian dunia. Ancaman konflik geoekonomi berisiko mendekatkan seluruh negara, tak terkecuali Indonesia pada jurang resesi.

Akan tetapi, Presiden Joko Widodo, optimistis Indonesia mampu berkelit dari imbas ketidakpastian global mengingat berbagai indikator ekonomi sejauh ini cukup positif. Mulai dari inflasi, perdagangan, hingga investasi.

Kepala Negara melihat ada banyak capaian positif pada ekonomi nasional tahun lalu, kendati dihadapkan pada sejumlah kegentingan global.

Namun, Presiden pun memahami bahwa warsa 2023 masih menjadi tahun yang tidak mudah atau tahun ujian bagi seluruh negara di dunia. Tekanan geopolitik yang sangat tinggi, hingga pelemahan ekonomi terutama di Uni Eropa, China, dan AS akan berdampak bagi Indonesia.

Oleh karenanya, Jokowi mewanti-wanti jajarannya untuk siap merespons dengan cepat setiap perubahan yang ada di dunia lewat kebijakan yang tepat, sehingga mampu mewujudkan target pertumbuhan 5,3% pada tahun ini.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nurbaiti
Editor : Nurbaiti
Sumber : Bisnisindonesia.id
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper