Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Incar Investasi US$200 Miliar, INA Lirik Energi dan Digital

INA mempercepat target investasi pada 2024 dengan mengincar lebih banyak industri energi dan investasi digital.
Chief Executive Officer (CEO) Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) Ridha Wirakusumah. INA membidik investasi hingga US$200 miliar hingga 2024. Bisnis/Himawan L Nugraha
Chief Executive Officer (CEO) Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) Ridha Wirakusumah. INA membidik investasi hingga US$200 miliar hingga 2024. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA —  Indonesia Investment Authority (INA) atau Sovereign Wealth Fund Indonesia menargetkan nilai investasi mencapai US$200 miliar setara Rp3.115 triliun (kurs tengah BI Rp15.575 per dolar AS) pada 2024.

CEO Indonesia Investment Authority Ridha Wirakusumah mengatakan bahwa percepatan target investasi hingga Rp3.115 triliun tersebut terutama mengincar lebih banyak pada industri energi dan investasi digital.

"INA juga sedang menyelesaikan investasi keduanya di jalan tol dan bersiap untuk mendatangkan salah satu perusahaan energi panas bumi terbesar di dunia dalam beberapa bulan ke depan," kata Ridha Wirakusumah dikutip dari Bloomberg, Rabu (11/1/2023).

Akan tetapi, dia menolak menyebutkan siapa perusahaan energi yang tengah digandengnya. Dia memastikan segala prosesnya telah sampai pada bagian akhir.

INA lanjutnya, telah meningkatkan nilai investasi bersama lebih dari US$27 miliar hingga saat ini, dari posisi modalnya hanya US$200 juta ketika dimulai pada 2021.

Pada tahun lalu, sang CEO sempat meragukan pencapaian target US$200 miliar dalam 2—3 tahun yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2021. Namun, seiring dengan prospek investasi yang lebih baik pasca pandemi, Ridha menjadi lebih optimistis.

“Fakta bahwa ada beberapa penyesuaian harga, itu sangat bagus untuk peluang investasi karena tidak setinggi dahulu lagi,” katanya di sela-sela Asian Financial Forum di Hong Kong.

Dia menambahkan bahwa pertumbuhan global akan mendapat manfaat dari penurunan pembatasan Covid-19 di Asia Utara, khususnya China.

INA, yang baru-baru ini juga menandatangani perjanjian tentang kendaraan listrik dan transisi energi, memprioritaskan infrastruktur, energi, digital, dan perawatan kesehatan saat mencari lebih banyak kesepakatan.

“Kami telah berinvestasi dalam infrastruktur digital dan perdagangan digital. Itu akan kita kembangkan karena itu salah satu katalis bagi Indonesia ke depan,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper