Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Peralihan Energi Batu Bara Ke EBT, Indocement (INTP) Tunggu Aturan Solar Plant

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) berharap pemerintah menerbitkan aturan terkait solar plant sebagai upaya peralihan dari batu bara.
Pabrik semen milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Pabrik semen milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Bisnis.com, JAKARTA- Industri pengguna batu bara mendukung langkah Pemerintah Indonesia mengalihkan penggunaan fosil ke energi baru terbarukan (EBT), salah satu yang diminta adalah regulasi terkait pembangkit listrik tenaga surya atau solar plant.

Menurut Direktur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) Antonius Marcos, pemerintah perlu menyiapkan kebijakan, termasuk insentif, yang mempermudah industri melakukan peralihan dari batu bara ke EBT. 

"Kami mendukung prakarsa ini. Namun, penggunaan EBT memerlukan investasi besar untuk persiapannya. Untuk itu, pemerintah harus menyiapkan kebijakan yang memudahkan dan mendorong industri beralih ke EBT," kata Antonius kepada Bisnis, Senin (14/11/2022). 

Dalam upaya peralihan itu, dia mengingatkan agar pemerintah memikirkan pendekatan terkait dengan kesiapan industri-industri pengguna batu bara.

Di industri semen, misalnya, Antonius mengatakan INTP masih menunggu kebijakan pemerintah terkait dengan izin solar plant untuk industri, dan berharap pemerintah mendukung pengembangan tersebut.

Sebab, tambah Antonius, energi solar atau cahaya matahari berpotensi menjadi pengganti batu bara seiring dengan posisi RI yang berada di garis khatulistiwa. 

"Indocement pun saat ini sedang melakukan study dan penjajakan investasi untuk dapat memiliki pembangkit tenaga listrik tenaga surya," ungkapnya. 

Selain itu, sambungnya, Indocement secara bertahap telah mengkonsumsi bahan bakar alternatif dalam jumlah yang cukup banyak. 

Sampai dengan saat ini, konsumsi bahan bakar alternatif telah menggantikan batubara di emiten semen itu mencapai hampir 19 persen, dan ditargetkan bisa mencapai 25 persen pada 2025 mendatang. 

Perusahaan juga menandatangani nota kesepahaman dengan TPS Bantar Gebang yang akan memasok produk sampah refused-derived fuel (RDF) ke pabrik Indocement di Citeureup, Jawa Barat. 

Sebagai informasi, peralihan penggunaan energi fosil ke EBT menjadi isu yang dikedepankan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. Selain itu, pemerintah juga sudah mengungkapkan rencana untuk segera menghentikan PLTU Batu Bara. 

Di sisi lain, Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam (BGNL) Kemenperin Wiwiek Pudjiastuti pemerintah telah mengurangi proyeksi penggunaan batu bara untuk industri semen tahun ini dari 16,66 juta ton/tahun menjadi 13,67 juta ton/tahun.

"Realisasi penggunaan batubara untuk industri semen periode Januari-Agustus 2022 untuk industri semen baru 8,9 juta ton. Diperkirakan realisasi penggunaan batubara hingga Desember 2022 hanya sebesar 13,67 juta ton," kata Wiwiek kepada Bisnis. 

Proyeksi awal tahun ini penggunaan batu bara untuk industri semen meningkat dari kebutuhan pada 2021, yakni sekitar 12,21 juta ton/tahun. Atau, bertambah sebanyak 4,45 juta ton. 

Berdasarkan catatan Kemenperin, terdapat 12 perusahaan penghasil semen yang membutuhkan pasokan batu bara sepanjang 2022.

PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR) menjadi pengguna terbesar dengan proyeksi kebutuhan mencapai 2,44 juta ton/tahun. Disusul oleh PT Semen Tonasa yang masih merupakan bagian grup SMGR sebesar 2,16 juta ton per tahun. 

Kemudian ada PT Semen Padang, yang juga bagian dari grup SMGR, dengan kebutuhan mencapai 1,92 juta ton per tahun. Lalu perusahaan Semen Merah Putih, PT Cemindo Gemilang Tbk. (CMNT), dengan proyeksi kebutuhan sebesar 1,91 juta ton per tahun. Serta 

Serta PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk. (INTP) dengan total kebutuhan batu bara untuk tahun ini mencapai 1,63 juta ton per tahun. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rahmad Fauzan
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper