Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Blok Mahakam Jaga Produksi Migas di Tengah Penyusutan Alamiah

PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) memproyeksikan produksi gas hingga akhir 2022 berada di kisaran 522 MMSCFD.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 09 November 2022  |  19:27 WIB
Blok Mahakam Jaga Produksi Migas di Tengah Penyusutan Alamiah
Ilustrasi produksi gas - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pertamina Hulu Indonesia (PHI) tengah meningkatkan aktivitas pengeboran serta eksplorasi untuk menahan laju penurunan produksi gas dan minyak di blok Mahakam.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Chalid Said Salim memproyeksikan produksi gas hingga akhir 2022 berada di kisaran 522 MMSCFD. Sedangkan, proyeksi produksi minyak ditargetkan berada di kisaran 24,8 MBOPD tahun ini.

“Apabila kita tidak melakukan pekerjaan sama sekali karena ini mengelola mature field yang sudah berumur hampir 50 tahun jadi decline dari baseline itu cukup tinggi,” kata Chalid saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII, Jakarta, Rabu (9/11/2022).

Chalid mengatakan pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan pengeboran hingga 98 sumur pada tahun ini. Target itu relatif tinggi jika dibandingkan dengan torehan pengeboran 75 sumur pada 2021 lalu.

Selain itu, dia mengatakan, pihaknya akan meningkatkan kegiatan well service atau well work (WO/WS) ke angka 4.712 pada tahun ini. Komitmen itu lebih tinggi dari realisasi WO/WS 2021 di posisi 4.465 kegiatan.

“Dengan kegiatan itu di 2022 target pencapaian produksi gas mencapai 522 MMSCFD untuk produksi gas, untuk minyak 24,8 MBOPD,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Wiko Migantoro membeberkan sejumlah lapangan tua yang saat ini dikelola Pertamina mengalami penurunan produksi alamiah atau declined rate lebih dari 50 persen.

Malahan, Wiko mengatakan, sejumlah lapangan yang mengalami penurunan produksi lebih dari 50 persen itu berasal dari wilayah kerja (WK) andalan Pertamina.

“Secara keseluruhan natural decline rate dari subsurface kita adalah lebih besar dari 50 persen pada mature block dari beberapa key performance,” kata Wiko saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Rabu (9/11/2022).

Sejumlah WK yang tercatat mengalami penurunan produksi signifikan itu di antaranya Rokan, Pertamina EP, PT Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) dan PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Kendati demikian, PHE melaporkan sejumlah lapangan yang berhasil menorehkan produksi melebihi target berasal dari WK Offshore North West Java (1,7 MBOPD), PEP Jatibarang (0,9 MBOPD), PT Pertamina Hulu Mahakam (1,3 MBOPD & 30 MMCFD), JOB Tomori (22 MMCFD) dan Corridor (6 MMCFD).

Sebelumnya, PHE memproyeksikan produksi minyak dan gas bumi (Migas) subholding hulu Pertamina hingga akhir 2022 dapat menyentuh di angka 808 MBOEPD. Torehan itu berasal dari perolehan produksi minyak sebesar 418 MBOPD dan gas di kisaran 2.256 MMCFD.

Prognosa produksi Migas dari subholding hulu Pertamina itu relatif lebih rendah dari target awal yang sempat dipatok optimis pada awal 2022. Saat itu, target produksi Migas ditetapkan sebesar 854 MBOEPD yang berasal dari capaian minyak 446 MBOPD dan gas 2.363 MMCFD.

“Prognosa akhir Desember, produksi Migas PHE akan sebesar 808 ribu barel oil equivalent per day atau tumbuh 9 persen dibandingkan realisasi 2021,” kata dia.

Hingga September 2022, realisasi produksi Migas dari PHE sudah di angka 800 MBOEPD. Torehan produksi itu berasal dari minyak sebesar 418 MBOPD dan gas di angka 2.216 MMCFD.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

migas skk migas blok migas hulu migas produksi migas
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top