Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Biaya Operasional Kilang Pertamina Diklaim Lebih Murah dari Singapura

Pertamina menyebut bahwa biaya operasional kilang Pertamina terus mengalami penurunan rata-rata sekitar US$3,67 per barel.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 10 September 2022  |  10:46 WIB
Biaya Operasional Kilang Pertamina Diklaim Lebih Murah dari Singapura
Kilang Pertamina di Tanjung Priok - Bloomberg / Dimas Ardian
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Pembangunan dan perbaikan kilang yang dilakukan Pertamina diklaim mampu mengurangi biaya operasional kilang. Operasional kilang disebut lebih hemat dan mampu bersaing dengan sejumlah kilang milik perusahaan energi dunia di Asia Pasifik.

Pertamina menyebut bahwa biaya operasional kilang Pertamina terus mengalami penurunan rata-rata sekitar US$3,67 per barel. Biaya operasional kilang Pertamina ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya operasional kilang di Singapura yang mencapai US$7,81 per barel.

Biaya operasional kilang terendah telah dicapai dua kilang, yakni Refinery Unit (RU) IV Cilacap dengan biaya US$2,83 per barel dan RU III Plaju sebesar US$2,92 per barel.

“Upaya pembangunan dan revamping kilang terus dilakukan Pertamina dan hasilnya mampu menekan operasional kilang sehingga lebih rendah dari perusahaan migas lainnya di Asia Pasifik,” ungkap Taufik Aditiyawarman, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional melalui siaran pers, dikutip Sabtu (10/9/2022).

Dia mengatakan penurunan operasional kilang diperoleh dari terobosan dan penghematan yang dilakukan Pertamina, terutama dalam pengadaan minyak mentah. Saat ini, untuk pengadaan crude Pertamina mampu bersaing di pasar global senilai US$69,246 per barel lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan lain yang berada di angka US$69,46 per barel dan satu perusahaan migas lain jauh di atas, yakni US$71,80 per barel.

Dengan program refinery development master plan (RDMP) yang terus berjalan, kilang Pertamina juga menjadi lebih fleksibel mengolah berbagai jenis minyak mentah. Taufik menuturkan, rata-rata net cash margin (NCM) Pertamina sangat positif, sebesar US$ 4,88 per barel. Keberhasilan ini bahkan jauh dibandingkan dengan Malaysia Pertronas US$1,56 per barel.

“Upaya menekan biaya operasi salah satunya dengan penurunan biaya pembelian crude karena porsi terbesar dalam produksi BBM adalah biaya pembelian minyak mentah yang mencapai 92 persen dari biaya pokok produksi,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertamina pt pertamina pertamina hulu energi kilang pertamina Harga BBM BBM bbm subsidi
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top