Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wacana Cuti Melahirkan 6 Bulan, Pengusaha Ogah Rekrut Pekerja Perempuan?

Isu cuti melahirkan 6 bulan menjadi pembicaraan hangat di berbagai media sosial, salah satunya Twitter.
Ilustrasi cuti melahirkan/Istimewa
Ilustrasi cuti melahirkan/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pro dan kontra terkait wacana perpanjangan cuti melahirkan menjadi enam bulan turut ramai dibahas netizen di media Twitter. Banyak netizen mendukung usulan dari Ketua DPR RI Puan Maharani, tetapi tak sedikit pula yang kecewa dengan usulan tersebut.

Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu & Anak (KIA) nantinya mengubah UU No. 13 tahun 2013, pasal 82 ayat (1) yang menyebutkan bahwa pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.

Salah satu netizen di Twitter menilai adanya perpanjangan cuti tersebut akan membuat kesempatan kerja bagi perempuan makin sedikit. Pasalnya pengusaha pun akan berpikir ribuan kali untuk merekrut tenaga kerja perempuan.

“Bahas cuti hamil & melahirkan 6 bulan. Me & husband be like: ‘Ok gak usah hire karyawan perempuan, atau kalo melahirkan, suruh mengundurkan diri aja. Kalau maupun, kontrak aja’. Cuti 3 atau 6 bulan sih menurutku gak ada pengaruhnya ke anak, beda cuma dikit. Kecuali ngasih cutinya 2 tahun,” ujar @melanieppuchino, Minggu (19/6/2022).

Lebih lanjut dalam unggahannya, netizen tersebut melihat maka kesempatan kerja perempuan yang sudah kecil, akan semakin kecil lagi karena aturan tersebut.

“Ya gimana kalau perusahaan belum punya profit signifikan tapi disuruh nalangin 6 bulan gaji all in yang nggak bisa dipakai tenaganya??” lanjutnya.

Melihat kondisi Indonesia, netizen tersebut berpendapat bahwa Indonesia belum sesiap negara-negara lainnya yang memberikan cuti lebih dari tiga bulan seperti Finlandia, Inggris, dan Selandia Baru.

“Negara kita belum punya cukup laki-laki yang rasa tanggung jawab ke istrinya juga cukup. Artinya, ya salama hamil dan melahirkan kesejahteraan ibu anak itu jadi tanggungan suami sebagai kepala keluarga, bukan malah ke perusahaan. Kalau ekonomi gak cukup, gimana?”

“Yang perempuan muda-muda juga kesempatan kerja jadi semakin sedikit. Hasilnya either si perempuan yang berwirausaha makin banyak, atau ekonomi makin terpuruk. Kalau lihat culture kerja di Indonesia? Mari kita pikirkan lagi kebijakan tersebut apakah benar bisa membantu kesejahteraan ibu anak?” pungkas @melaniepucchino.

Pengusaha pun melihat akan adanya dampak negatif dari kebijakan tersebut jika benar akan diterapkan nantinya. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi B. Sukamdani mengatakan bahwa usulan tersebut berdampak negatif bagi pengusaha.

Sebab kebijakan perpanjangan cuti tersebut bisa menghambat perkembangan perusahaan dari sisi produktivitas maupun penyerapan pekerja. Dia mengkhawatirkan bahwa perpanjangan durasi cuti ini bisa menghambat karyawan perempuan, serta perusahaan di mana mereka bekerja.

Oleh sebab itu, dia menyarankan agar DPR perlu melihat perspektif yang lebih adil dari perusahaan selain dari masyarakat. Dia pun meminta agar aturan terkait cuti saat ini, tidak diubah dahulu dengan melihat kondisi dan situasi yang terjadi saat ini.

“Secara umum, perusahaan sudah memberikan banyak perhatian dan fasilitas untuk karyawan yang melahirkan dalam posisi yang tidak memberatkan bagi para ibu. Perpanjangan selama 6 bulan bisa jadi masalah dalam penyerapan tenaga kerja, terutama pada perempuan yang sudah memiliki anak,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (16/6/2022).

Selain itu, sambungnya, perpanjangan cuti hamil dan melahirkan juga berdampak pada perusahaan. Sebab korporasi akan kekurangan karyawan atau sumber daya manusia hingga produktivitas perusahaan yang berkurang. Menurutnya, dengan adanya cuti sendiri berarti akan adanya pergantian karyawan untuk sementara waktu.

Sementara itu, ada sejumlah komentar netizen yang pro terhadap wacana ini. Salah satunya adalah @elisa_ jkt.

“Dari tweet ini kita belajar:

Pengusaha tidak melihat tenaga kerja/buruh sebagai manusia, tapi melihatnya sebagai alat/mesin/barang untuk menghasilkan keuntungan bagi dirinya. Mengapa kita perlu & penting bernegara (yang bener) dan bukannya ber-pengusaha,” tulis @elisa_ jkt.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper