Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Batu Bara Kerek Permintaan Alat Berat, Hinabi: Produksi Masih Kurang, Terpaksa Impor

Produsen yang tergabung di Hinabi merencanakan produksi alat berat dengan kapasitas maksimal 10.000 unit tahun. Sementara itu, market size alat berat di Tanah Air adalah 18.000 unit per tahun.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 20 Juni 2022  |  12:28 WIB
Batu Bara Kerek Permintaan Alat Berat, Hinabi: Produksi Masih Kurang, Terpaksa Impor
Pekerja mengoperasikan alat berat saat bongkar muat batu bara ke dalam truk di Pelabuhan PT Karya Citra Nusantara (KCN), Marunda, Jakarta, Rabu (12/1/2022). ANTARA FOTO - M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Ketua Umum Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi) Jamaludin mengatakan pelaku industri alat berat mau tidak mau harus melakukan importasi untuk memenuhi permintaan dari sejumlah negara di Eropa.

Jamaluddin menjelaskan produsen yang tergabung di Hinabi merencanakan produksi alat berat dengan kapasitas maksimal 10.000 unit tahun. Sementara itu, market size alat berat di Tanah Air adalah 18.000 unit per tahun.

"Kalau melihat permintaan di atas 10.000 unit, mau tidak mau kekurangannya haru impor untuk memenuhi permintaan yang ada," kata Jamaluddin kepada Bisnis, Senin (20/6/2022).

Sejauh ini, belum diketahui pasti berapa potensi kenaikan permintaan terhadap alat berat menyusul lonjakan kebutuhan batu bara di sejumlah negara Eropa menjelang mulainya musim dingin.

Namun, pelaku industri alat berat harus siap-siap menyambut 'durian runtuh' seiring dengan meningkatnya permintaan baru bara dari sejumlah negara Eropa memasuki musim dingin.

Mengutip pemberitaan Bisnis sebelumnya, Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengatakan sejumlah negara sudah mengajukan permintaan batu bara dari RI.

Beberapa di antaranya bahkan sudah memulai transaksi, seperti Jerman, Polandia, Italia, Spanyol, dan Belanda. Jerman menjadi negara yang sudah resmi mengajukan permintaan 150 juta ton.

Terkait dengan kondisi itu, Hendra pun terang-terangan meminta dukungan terkait dengan ketersediaan alat tambang, termasuk alat berat.

Namun, hal tersebut tampaknya sudah disadari oleh pelaku industri alat berat di dalam negeri.

Mengutip risalah public expose PT Kobexindo Tractors Tbk. (KOBX) yang berlangsung 15 Juni 2022, perusahaan mengupayakan peningkatan penjualan seiring dengan optimisme membaiknya rantai pasok unit alat berat tahun ini.

Sejumlah strategi diterapkan untuk merealisasikan hasil dari upaya tersebut, di antaranya menjalin kolaborasi antargrup, melakukan up selling, down selling, serta cross selling.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top