Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gelombang Inflasi Melejit di Asia, Nyalakan Tanda Bahaya?

Asian Development Bank memperkirakan kenaikan harga komoditas semakin memanaskan inflasi di Asia hingga 1-3,7 persen pada tahun ini.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 13 April 2022  |  21:54 WIB
Pemandangan Hong Kong pada malam hari. - Bloomberg/Brent Lewin
Pemandangan Hong Kong pada malam hari. - Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA - Harga pangan dan energi yang terkerek telah merambah ke kawasan Asia, menyenggol ekonomi terbesarnya, seperti China, India, Indonesia, Korea Selatan, dan lainnya.

Melansir Bloomberg, Rabu (13/4/2022), tren ini mengikuti lonjakan inflasi di AS setelah data menunjukkan inflasi pada Maret mencapai yang tertinggi sejak 1981 sehingga menekan Federal Reserve untuk bertindak.

Sementara itu, imbal hasil surat utang pemerintah di kawasan ini naik pada tahun ini, dipimpin oleh Korea Selatan. Indeks imbal hasil acuan di Asia turun 2,6 persen, menjadi yang terburuk sejak 2013.

Hal itu akan memperkuat sinyal kenaikan suku bunga acuan bank sentral untuk mendinginkan inflasi dan menopang mata uangnya seiring dengan cabutnya permodalan di kawasan.

Kepala Ekonom Asia Bloomberg Chang Su mengatakan perang di Ukraina menaikkan harga bahan bakar dan lockdown di Shanghai membuat pelabuhan terbesar di dunia itu kacau.

“Tekanan rantai pasokan Asia akan memburuk dalam beberapa bulan ke depan, menambah kekhawatiran tentang inflasi global," jelasnya. 

Invasi Rusia di Ukraina telah mendorong gejolak di pasar komoditas yang telah mengerek harga bahan bakar dan mengancam pasokan biji-bijian ke kawasan dengan konsumsi tertinggi.

Kenaikan harga pupuk dan ongkos transportasi turut menyumbang lonjakan harga pangan ke level rekor.

Asian Development Bank memperkirakan kenaikan harga komoditas semakin memanaskan inflasi di Asia hingga 1-3,7 persen pada tahun ini.

Australia & New Zealand Banking Group mengatakan investasi senilai US$22,3 miliar keluar dari negara berkembang di Asia pada Maret, kecuali China. Hal itu menjadi sell off terburuk sejak Maret 2020.

Konsumsi rumah tangga di negara dengan populasi terbesar kedua, India tengah terpukul karena harga pangan naik hampir 80 persen.

Reaksi Reserve Bank of India menjadi penanda tekanan di Asia. Gubernur Shaktikanta Das pekan lalu mengatakan adanya pergerakan tektonik pada proyeksi ekonomi makro dan inflasi sejak akhir Februari 2022.

Invasi Rusia ke Ukraina membalikkan narasi sebelumnya tentang tekanan harga yang lebih tenang tahun ini.

"Dalam urutan prioritas kami, kami sekarang menempatkan inflasi di atas pertumbuhan," kata Das.

Sementara di China, harga produsen naik 8,3 persen dari tahun lalu, turun dari 8,8 persen pada Februari, tetapi masih di atas media 8,1 persen.

Harga acuan Bank of Japan pada makanan segar naik 0,6 persen pada Februari 2022 dari setahun sebelumnya, menjadi yang tercepat dalam 2 tahun, mendorong lonjakan harga energi.

Bank sentral di Korea Selatan dan Singapura juga bertemu minggu ini. Para ekonom terpecah pada prospek kenaikan suku bunga selanjutnya di Kota Seoul.

Sementara Singapura diperkirakan akan memperketat peraturan untuk memerangi inflasi yang diimpor, terutama energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi ekonomi china tekanan inflasi EKONOMI ASIA

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top