Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Importir Khawatir Pasokan Bahan Baku Tempe dan Tahu Macet

Dengan kebutuhan rata-rata setiap tahun mencapai 2,5 juta ton, produksi kedelai domestik baru bisa mencapai sekitar 800.000 ton per tahun.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 24 Maret 2022  |  00:59 WIB
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.300 per kilogram di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/1/2022). ANTARA FOTO - Ari Bowo Sucipto
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.300 per kilogram di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/1/2022). ANTARA FOTO - Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA — Direktur Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayat mengkhawatirkan terganggunya pasokan bahan baku tempe dan tahu setelah keluarnya rekomendasi larangan terbatas atau Lartas Kedelai pada tahun ini.

Hidayat mengatakan Lartas impor untuk komoditas kedelai relatif berisiko lantaran produktivitas bahan baku olahan itu di dalam negeri terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Dengan kebutuhan rata-rata setiap tahun mencapai 2,5 juta ton, produksi kedelai domestik baru bisa mencapai sekitar 800.000 ton per tahun.

“Kalau pengurangan [impor] nanti yang teriak pengrajin tempe tahu, produksi kedelai dalam negeri dari tahun ke tahun kan turun,” kata Hidayat melalui sambungan telepon, Rabu (23/3/2022).

Menurut Hidayat, turunnya produktivitas kedelai dalam negeri tidak berkaitan dengan kegiatan impor selama 15 tahun terakhir. Dia berpendapat turunnya produktivitas kedelai itu disebabkan karena harga komoditas itu tidak kompetitif ketimbang padi dan jagung.

“Produktivitas kedelai kita itu masih sangat rendah, petani lebih memilih menanam padi dan jagung ketimbang kedelai,” tuturnya.

Kendati demikian, dia memastikan, importir mendukung manuver pemerintah untuk menerapkan Lartas impor kedelai pada tahun ini. Hanya saja, dia meminta pemerintah untuk mengimbangi kebijakan itu dengan peningkatan produksi kedelai di dalam negeri.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan dirinya sudah mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk menerapkan larangan terbatas (Lartas) untuk importasi kedelai pada tahun ini. Syahrul beralasan impor kedelai yang sudah berlangsung selama 15 tahun itu terbukti menekan produktivitas petani di dalam negeri.

“Sekali-kali kita injak juga kakinya itu importir sudah 15 tahun mereka impor melulu kalau kita lihat di data semenjak IMF menetapkan itu maka importasinya itu cukup besar, sangat besar dan tidak ada lartasnya, saya sampaikan ke Presiden harus ada lartas,” kata Syahrul saat rapat kerja bersama dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta, Selasa (22/3/2022).

Menurut Syahrul, ketergantungan impor selama 15 tahun terakhir telah memaksa petani untuk beralih dari menanam kedelai ke komoditas lain yang lebih kompetitif seperti jagung. Konsekuensinya, lahan tanam kedelai setiap tahunnya dan beralih ke komoditas lain.

Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, stok awal kedelai 2022 mencapai 190.970 ton sementara produksi bulanan di dalam negeri sekitar 70.742 ton. Adapun, realisasi impor pada Januari 2022 sudah mencapai 321.994 ton sementara rencana impor akan dilanjutkan sebanyak 735.845 ton hingga akhir Mei 2022.

Adapun, kebutuhan kedelai selama Januari hingga Mei 2022 diproyeksikan sebanyak 1,17 juta ton dengan asumsi kebutuhan bulanan sekitar 235.449 ton. Dengan demikian, stok akhir Mei 2022 diperkirakan mencapai 142.307 ton.

Rencanannya, Kementan akan memperluas luas tanam kedelai dalam negeri mencapai 600.000 hektare selama April hingga Oktober 2022. Targetnya, produksi kedelai dalam negeri hingga akhir tahun dapat bertambah hingga 900.000 ribu ton.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai tempe harga kedelai impor kedelai tahu tempe
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top