Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Usul Lartas Impor Kedelai ke Jokowi, Mentan: Sesekali Kita Injak Kaki Importir

Mentan Syahrul Yasin Limpo mengusulkan pengenaan lartas impor kedelai kepada Presiden Jokowi.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 23 Maret 2022  |  13:20 WIB
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.300 per kilogram di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/1/2022). ANTARA FOTO - Ari Bowo Sucipto
Perajin membuat tempe berbahan baku kedelai impor yang kini harganya naik dari Rp9.600 menjadi Rp10.300 per kilogram di sentra perajin tempe di Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (11/1/2022). ANTARA FOTO - Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan dirinya sudah mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk menerapkan larangan terbatas (Lartas) untuk importasi kedelai pada tahun ini. Syahrul beralasan impor kedelai yang sudah berlangsung selama 15 tahun itu terbukti menekan produktivitas petani di dalam negeri.

“Sekali-kali kita injak juga kakinya itu importir sudah 15 tahun mereka impor melulu kalau kita lihat di data semenjak IMF menetapkan itu maka importasinya itu cukup besar, sangat besar dan tidak ada lartasnya, saya sampaikan ke Presiden harus ada lartas,” kata Syahrul saat rapat kerja bersama dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta, Selasa (22/3/2022).

Menurut Syahrul, ketergantungan impor selama 15 tahun terakhir telah memaksa petani untuk beralih dari menanam kedelai ke komoditas lain yang lebih kompetitif seperti jagung. Konsekuensinya, lahan tanam kedelai setiap tahunnya dan beralih ke komoditas lain.

“Karena harga kedelai di luar Rp5.000-an sementara petani kita tidak untung kalau harga dia di bawah Rp7.000 karena 1 hektare hanya bisa mampu kurang lebih 1,5 ton per hektare itu hasilnya kurang lebih Rp13 juta, kalau di bawah Rp7.000 tidak bisa masuk,” kata dia.

Sementara, dia menambahkan, produktivitas jagung untuk 1 hektare bisa mencapai 5 ton. Adapun dengan harga jagung Rp5.000, pendapatan petani relatif tinggi mencapai Rp20 juta dengan ongkos produksi sekitar Rp8 juta.

“Maka hasil [jagung] jauh lebih banyak ga ada yang mau menanam kedelai, kalau kita mau tanam maksimal ini kaan merugikan, barangkali kita harus tanam karena harganya sudah bagus Rp10.000 kemungkinan masih terus naik sehingga harga tempe dan tahu juga naik,” kata dia.

Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian, stok awal kedelai 2022 mencapai 190.970 ton sementara produksi bulanan di dalam negeri sekitar 70.742 ton. Adapun, realisasi impor pada Januari 2022 sudah mencapai 321.994 ton sementara kuota impor untuk tahun ini masih tersisa sebanyak 735.845 ton.

Adapun, kebutuhan kedelai selama Januari hingga Mei 2022 diproyeksikan sebanyak 1,17 juta ton dengan asumsi kebutuhan bulanan sekitar 235.449 ton. Dengan demikian, stok akhir Mei 2022 diperkirakan mencapai 142.307 ton.

Rencanannya, Kementan akan memperluas luas tanam kedelai dalam negeri mencapai 600.000 hektare selama April hingga Oktober 2022. Targetnya, produksi kedelai dalam negeri hingga akhir tahun dapat bertambah hingga 900.000 ribu ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kedelai impor kedelai
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top