Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar di Asean Lebih Tahan Banting Setelah Rencana Kenaikan The Fed

Asean sekarang tidak terlalu rentan dibandingkan pada masa lalu karena saldo akun saat ini sudah meningkat dan valuasi pada ekuitas.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 30 Januari 2022  |  19:04 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar di Asia Tenggara menunjukkan ketahanan dibandingkan aset berisiko global setelah aksi hawksih dari Federal Reserve.

Dilansir Bloomberg pada Minggu (30/1/2022), eksposur yang tinggi terhadap sektor tertentu, China sebagai mitra dagang yang tengah membanjiri stimulus, dan pelonggaran penguncian bakal menjadi faktor-faktor yang memperkuat pandangan bahwa saham dan obligasi di Asean dapat bertahan dari kenaikan suku bunga The Fed yang bakal membebani.

Indeks MSCI Asia Tenggara menunjukkan ekuitas turun kurang dari 2 persen pada pekan ini dan naik ke level tertinggi selama 18 bulan relatif terhadap benchmark Asia yang merosot hampir 5 persen.

"Asean sekarang tidak terlalu rentan dibandingkan pada masa lalu karena saldo akun saat ini sudah meningkat dan valuasi pada ekuitas, saham, dan mata uang tidak terlalu mengkhawatirkan. Pasar berada dalam posisi relatif lebih baik ketimbang 2013," kata ahli strategi UBS Group AG termasuk Niall MacLeod dalam sebuah catatan pada Kamis. Thursday.

Perkiraan laju kenaikan suku bunga The Fed yang lebih cepat telah membuat imbal hasil obligasi global melonjak dan memicu rotasi ekuitas yang meluas pada saham bernilai tinggi.

Hal itu menguntungkan pasar seperti Filipina, Thailand dan Singapura yang memiliki eksposur yang tinggi terhadap sektor seperti keuangan dan industri. Benchmark mereka berada di antara yang berkinerja terbaik pada pekan ini di Asia. Sementara performa pasar yang sarat dengan saham seperti Korea Selatan dan Hong Kong justru buruk.

Sebelumnya, pasar Asean telah berjuang keras pada saat menghadapi taper tantrum pada 2013 akibat menumpuknya kredit dan memburuknya keseimbangan makro. Namun, rekening giro di negara-negara seperti Indonesia sekarang sudah terlihat lebih sehat, menurut UBS.

Saham di sektor perbankan dan energi bakal mendapat benefit dari dibukanya kembali aktivitas perekonomian dan akan mengalahkan sektor lainnya. Saham perusahaan keuangan dan energi menyumbang hampir 40 persen dari benchmark kawasan, dengan kurang dari 2 persen di saham teknologi, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Seperti diberitakan pada Jumat, Thailand berhasil mempertahankan prospek pertumbuhan ekonomi seiring dengan pelonggaran pembatasan aktivitas. Keputusan itu akan mendukung belanja domestik dan dibukanya kembali pariwisata.

Thailand juga telah memutuskan untuk menerapkan bebas karantina pada program visa untuk pengunjung yang sudah tervaksinasi pada Februari. Sementara itu, Indonesia juga telah mencabut larangan masuk bagi warga negara asing untuk menjaga ekonomi tetap berjalan. Sementara itu, Filipina juga menghapus aturan restriksinya.

"[Kondisi tahun ini] matang untuk melihat kinerja yang lebih baik dan mungkin rotasi dari pasar Asia Utara ke Selatan dan Asia Tenggara," terang David Chao, ahli strategi pasar global untuk Asia Pasifik ex Japan Invesco Ltd, mengacu pertumbuhan di Indonesia dan Filipina.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kebijakan The Fed
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top