Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Minyak Goreng Mulai Langka, Produsen Sebut Stok Aman. Kok Bisa?

Produsen minyak goreng menyebutkan tidak ada kendala dalam kegiatan produks meski banyak ritel modern telah kehabisan stok minyak goreng Rp14.000 per liter.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 25 Januari 2022  |  20:54 WIB
Seorang pengunjung memilih minyak goreng kemasan di Supermarket GS, Mal Boxies123, Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021).  - Antara Foto/Arif Firmansyah/tom.\r\n
Seorang pengunjung memilih minyak goreng kemasan di Supermarket GS, Mal Boxies123, Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/12/2021). - Antara Foto/Arif Firmansyah/tom.\\r\\n

Bisnis.com, JAKARTA – Produsen minyak goreng menyebutkan tidak ada kendala dalam kegiatan produksi, di tengah laporan bahwa gerai-gerai ritel modern telah kehabisan stok minyak goreng Rp14.000 per liter sejak kebijakan pertama bergulir pada 19 Januari 2022.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan stok barang yang dipasok produsen ke ritel modern umumnya memiliki ketahanan sampai 2 bulan. Dia menduga antusiasme tinggi masyarakat untuk memperoleh minyak goreng subsidi menjadi penyebab makin menipisnya ketersediaan.

"Produksi tidak ada kendala, jika memang stok sudah habis ritel bisa segera lakukan pemesanan," kata Sahat, Selasa (25/1/2022).

Sahat juga mengingatkan bahwa distribusi minyak goreng kemasan di Indonesia tidak sesederhana perkiraan. Pabrik pengemasan dia sebut terbatas di Pulau Jawa dan Sumatra, padahal biaya transportasi minyak goreng kemasan dan curah memiliki selisih yang cukup lebar.

"Kemasan sederhana atau pillow pack menambah biaya produksi sampai Rp1.210 per liter, sementara kemasan premium mencapai Rp2.300 per liter. Akan lebih murah jika minyak goreng didistribusi dalam angkutan kapasitas 10.000 liter dan dikemas di daerah masing-masing," katanya.

Hal ini pulalah yang menjadi salah satu pertimbangan produsen untuk mengarahkan produksi ke minyak goreng kemasan sederhana. Sahat mengatakan produksi minyak goreng kemasan premium akan terbatas dalam enam bulan implementasi kebijakan satu harga.

"Oleh karena itu kami sejak dulu rekomendasi agar usaha pengemasan ini dikembangkan di setiap daerah, dengan demikian pabrik jadi lebih mudah mengirimnya ke konsumen," kata dia.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan mengatakan ketersediaan stok yang terbatas di tingkat ritel dipicu oleh aksi rush buying pada awal implementasi kebijakan. Dia memastikan pasokan minyak goreng tetap aman.

"Stok di ritel modern kosong karena rush, pasokan sejauh ini aman," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan, Selasa (25/1/2022).

Oke menjelaskan aksi memborong barang atau rush buying dipicu oleh keinginan masyarakat untuk memperoleh minyak goreng kemasan premium. Kebijakan satu harga Rp14.000 per liter sendiri berlaku untuk minyak goreng kemasan sederhana maupun premium.

"Masyarakat rush karena berusaha dapat yang premium. Mungkin sudah diperkirakan ke depan tidak dapat memperoleh yang premium lagi," kata dia.

Ketika dimintai konfirmasi lebih lanjut apakah nantinya tidak ada perbedaan minyak goreng jenis premium dan kemasan sederhana yang diperdagangkan di tingkat eceran, Oke mengatakan hal tersebut akan tergantung pada kebijakan produsen. Dia tetap memastikan minyak goreng akan dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp14.000 per liter.

"Tergantung kebijakan perusahaan menyikapinya bagaimana. Yang penting mereka sudah tahu HET Rp14.000 per liter," kata Oke.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

subsidi minyak goreng gimni
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top