Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sektor Properti Diyakini Bisa Terus Tumbuh di Tengah Pandemi, Ini Alasannya

Sektor properti diyakini akan terus mengalami pemulihan, meski belum bisa kembali ke situasi sebelum pandemi Covid-19. Sejumlah konsultan properti pun membeberkan alasannya.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 11 Januari 2022  |  14:21 WIB
Ilustrasi - Deretan perumahan.  - Antara Foto/Oky Lukmansyah/pd
Ilustrasi - Deretan perumahan. - Antara Foto/Oky Lukmansyah/pd

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor properti diyakini akan terus mengalami pemulihan, meski belum bisa kembali ke situasi sebelum pandemi Covid-19. Sejumlah konsultan properti pun membeberkan alasannya.

Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, sektor properti sudah mulai bergerak sejak akhir tahun lalu. Namun demikian, pertumbuhan sektor properti tahun ini belum bisa diharapkan kembali ke situasi normal.

“Ini beberapa faktor, misalnya sisi internal karena suplai begitu banyak, khususnya untuk apartemen dan perkantoran. Memang bergerak naik, tetapi belum bisa seperti sebelum pandemic Covid-19,” ujarnya dalam Kaleidoskop Properti 2021 dan Prospek 2022 Prolab School of Property, Senin (10/1/2022) malam.

Dia menuturkan, subsektor properti yang terus menunjukkan tren positif adalah rumah tapak, logistik, dan data center. Lalu untuk sektor komersial lainnya, seperti hotel dan ritel masih membutuhkan kebijakan pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), sehingga aktivitas bisa bergerak maju.

“Untuk sektor perkantoran memang membutuhkan waktu yang agak lama, karena masih ada tren WFH [work from home] karena situasi saat ini yang masih akan berlanjut di 2022, dan memulai rebound pada tahun depan,” kata Ferry.

Country Manager Rumah.com Marine Novita mengatakan, untuk menarik minat pembeli properti, dari sisi penjual bisa dicari produk yang diminati konsumen. Menurutnya, konsumen saat ini lebih memilih untuk membeli rumah dengan akses publik transportasi yang baik.

“Mereka bersedia untuk rumah murah dan sedikit jauh dari Jakarta asalkan ada publik transportasi. Minat konsumen sendiri masih bersifat value for money. Mereka tidak mempermasalahkan rumah yang agak jauh dari pusat kota asalkan ditunjang oleh fasilitas umum yang lengkap dan transportasi umum yang baik,” ujarnya.

Menurutnya, minat konsumen properti pada 2022 masih akan tertuju pada kawasan-kawasan penyangga kota-kota besar.

Selain pertimbangan harga, infrastruktur transportasi, kelengkapan fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pendidikan masih akan menjadi daya tarik utama.

Adapun, sejumlah wilayah yang diperkirakan akan menjadi incaran konsumen di 2022, yakni Cipondoh dan Karang Tengah yang menjadi dua area yang paling prospektif di Kota Tangerang tahun ini.

Berdasarkan analisis Rumah.com, kedua wilayah tersebut memiliki fasilitas umum yang lengkap, serta beragam pilihan akses transportasi umum dan pribadi.

“Selain itu, kebijakan insentif BPHTB yang dikeluarkan Pemerintah Kota Tangerang menambah daya tarik di kedua area ini,” ucapnya.

Untuk Kota Bogor, kata dia, cukup mencuri perhatian konsumen di 2021. Peningkatan jumlah pencarian properti di wilayah itu menjadi yang meningkat paling signifikan selama tiga kuartal di tahun lalu.

Harga properti di Kota Bogor yang cenderung lebih stabil berhasil menarik minat konsumen di tengah pandemi Covid-19. Fasilitas yang cukup lengkap dengan akses transportasi yang terjangkau juga menjadi keunggulan Kota Bogor.

“Bepergian di Kota Bogor juga kini makin nyaman dengan adanya tol Bogor Outer Ring Road (BORR) maupun bus yang akhir-akhir ini sedang diperbanyak untuk menggantikan angkot. Kereta api pun dapat diakses melalui Stasiun Bogor, Bogor Paledang, dan Batutulis,” tuturnya.

Di Jawa Timur, Kabupaten Gresik berkembang menjadi area paling prospektif di kawasan metropolitan Surabaya atau yang dikenal sebagai Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan).

Wilayah yang menghadap Selat Madura dan Laut Jawa itu memiliki potensi untuk menjadi sunrise property karena didorong oleh perkembangan infrastruktur dan industri di dalamnya.

Saat ini, median harga di Gresik berada pada kisaran Rp6,4 jutaan, lebih murah ketimbang Sidoarjo maupun Bangkalan yang turut menjadi pusat industri di Gerbangkertosusila.

“Indeks harga properti di Gresik secara kuartalan juga sedang bertumbuh sebesar 4,53 persen pada kuartal II/2021. Angka ini lebih signifikan ketimbang wilayah lain di Gerbangkertosusila,” ujar Marine.

Country Manager Rumah123 Maria Herawati Manik meyakini kondisi properti pada tahun ini akan lebih baik, karena dipengaruhi oleh perpanjangan stimulus insentif Pajak Pertambahan Nilai dan uang muka (down payment/DP) 0 persen.

“Dukungan dari developer, agent, pelaku properti, dan juga insentif dari pemerintah membuat properti akan maju, paling tidak di semester 1/2022,” katanya.

Dia menilai, para developer dan agent properti harus memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen. Dia pun berharap para pengembang dapat mengeluarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

“Ini yang perlu dicari tahu, apa sih yang konsumen inginkan. Konsumen Indonesia ini cukup unik dan susah ditebak,” ucapnya. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti pertumbuhan properti
Editor : Lili Sunardi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top