Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penerimaan Pajak Lewati Target, Tren Shortfall Justru Berakhir saat Pandemi

Penerimaan pajak mencapai target setelah 12 tahun terjadi shortfall.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 27 Desember 2021  |  20:14 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia berhasil mencatatkan penerimaan pajak di atas target pada 2021 sehingga menutup tren shortfall yang terjadi sejak 12 tahun lalu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan bahwa penerimaan pajak telah mencapai Rp1.231,87 triliun per Minggu (26/12/2021). Perolehan itu melebihi target yang tercantum dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2021.

"Jumlah tersebut sama dengan 100,19 persen dari target yang diamanatkan dalam APBN Tahun Anggaran 2021 sebesar Rp1.229,6 triliun,” ujar Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Pimpinan Nasional IV Direktorat Jenderal Pajak, Senin (27/12/2021).

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan Neilmaldrin Noor menjelaskan bahwa sejak 2009 Indonesia mengalami shortfall pajak atau penerimaan pajak yang tidak mencapai target.

Misalnya, pada 2020 penerimaan pajak tercatat hanya mencapai Rp1.069,98 triliun atau 89,25 persen dari target senilai Rp1.198,8 triliun. Dalam satu dekade terakhir penerimaan pajak menghadapi tantangan dan bebannya semakin berat ketika pandemi Covid-19 menghantam, karena kondisi ekonomi masyarakat tertekan.

Pada tahun ini pun Kementerian Keuangan sempat memperkirakan bahwa shortfall akan mengecil karena kondisi perekonomian yang mulaih pulih. Namun, menurut Neil, pertumbuhan penerimaan pajak tahun ini ternyata lebih baik sehingga shortfall pun dapat berakhir lima hari sebelum tutup tahun.

"Penerimaan pajak mencapai target setelah 12 tahun [terjadi shortfall]," ujar Neil kepada Bisnis, Senin (27/12/2021).

Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo menyatakan bahwa euforia keberhasilan pencapaian target itu hendaknya tidak berlebihan karena tantangan ke depan akan semakin berat. Menurutnya, 2022 akan menjadi krusial dalam pelaksanaan konsolidasi fiskal, yakni tahun terakhir defisit APBN bisa melebihi 3 persen.

"Tahun 2023 harus sudah di bawah 3 persen. Sementara, ketidakpastian risiko pandemi Covid-19 masih membayangi. Penerimaan negara tentu dituntut semakin besar untuk dapat menutupi defisit APBN tersebut," ujar Suryo.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sri mulyani kementerian keuangan dirjen pajak penerimaan pajak
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top