Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bukan Varian Corona Baru, Ini yang Bikin Khawatir Pasar Obligasi

Kemunculan varian baru Corona, yakni Omicron telah mengguncang reli Treasury AS pada Jumat. Para perdagang bergegas berusaha untuk menunda kenaikan suku bunga pada 2022 hingga September dari awalnya Juni.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 28 November 2021  |  18:09 WIB
Ilustrasi Obligasi.  - Bisnis/Abdullah Azzam
Ilustrasi Obligasi. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Kekhawatiran investor surat utang tidak hanya dipicu dari munculnya varian baru. Inflasi pada 2022 yang akan diikuti dengan pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve akan mengguncang pasar obligasi.

Dilansir Bloomberg pada Minggu (28/11/2021), kemunculan strain baru Omicron telah mengguncang reli Treasury AS pada Jumat. Para perdagang bergegas berusaha untuk menunda kenaikan suku bunga pada 2022 hingga September dari awalnya Juni.

Imbal hasil US Treasury 5 tahun turun sebesar 18 basis poin dan 10 tahun turun 1,5 persen. Penurunan imbal hasil yang tiba-tiba merupakan bukti bagaimana sentimen sepihak telah terjadi akibat perubahan kondisi pandemi.

Pada saat yang sama, Federal Reserve telah menunjukkan bahwa inflasi akan menjadi ancaman berbahaya. Gubernur The Fed Jerome Powell dan calon Wakil Gubernur Lael Brainard mengatakan bakal fokus membendung inflasi, dalam sambutannya setelah dinominasikan oleh Presiden Joe Biden untuk memimpin bank sentral tahun depan.

Selain itu, sejumlah pejabat The Fed telah membeberkan rencana percepatan tapering dalam beberapa bulan ke depan.

"Dengan The Fed dan Bank of England yang sudah berada di belakang kurva, kecil kemungkinan varian baru akan mengubah arah kebijakan mereka pada tahap ini,” ujar Manajer Portofolio Senior Amundi Asset Management Leandro Galli.

Menurutnya, perkiraan inflasi yang masih tinggi akan membuat bank sentral AS memiliki ruang terbatas untuk menunda penarikan dukungan moneter.

Menjelang Desember, pasar tidak dapat mengharapkan penurunan volatilitas karena kabar varian Covid muncul. Sementara itu, investor akan fokus pada laporan data pekerjaan per November dan tingkat upah yang akan segera dirilis menunjukkan tekanan inflasi masih relevan.

“Pasar dan The Fed sangat bergantung pada data, dan jika beberapa laporan inflasi berikutnya tidak menunjukkan tanda-tanda moderasi yang signifikan, maka Powell dan Brainard memiliki tugas membawa The Fed menuju pasar obligasi pada 2022,” papar Kepala Strategi Pendapatan Tetap Wisdom Tree Investments Kevin Flanagan.

Dia memprediksi bank sentral akan lebih agresif dengan kebijakan tapering-nya. Begitu pula, pada Januari, pencabutan lebih lanjut pada kebijakan akomodasi akan dilakukan.

Ekonom Gold Sachs Group Inc., memperkirakan percepatan tapering akan membuka opsi bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga dengan segera pada sekitar pertengahan 2022.

Ian Lyngen, Kepala Strategi Suku Bunga AS BMO Capital Markets mengatakan masa tren imbal hasil yang menurun sudah berlalu. "Sekarang The Fed fokus untuk mempertahankan kredibilitas inflasinya, dan Anda memperdagangkannya dengan meratakan kurva," pungkasnya.

Sikap kebijakan seperti itu mendukung ratanya kurva imbal hasil. Pada Jumat, perbedaan antara imbal hasil Treasury 5- dan 30-tahun mencapai 70 basis poin, lompatan besar dari level terendah 20-bulan 61 basis poin yang ditetapkan pada Rabu.

Selain itu, kurva imbal hasil akan terlihat lebih datar jika data ekonomi menunjukkan tanda-tanda moderasi. Hal ini dibarengi dengan ancaman gelombang baru infeksi Covid selama musim dingin. Dengan kondisi itu, inflasi bakal semakin tertekan, di tambah gangguan rantai pasok yang sedang dalam masa krisis.

"The Fed akan tetap hawkish seiring dengan rangsangan permintaan dapat menghasilkan tekanan harga yang lebih kuat," ungkap Ahli Strategi Pendapatan Tetap Saxo Bank Althea Spinozzi dalam sebuah catatan.

Kendati munculnya strain baru mengkhawatirkan, tetapi memperkirakan pengetatan kebijakan pada tahun depan dan mempertahankan tren kenaikan imbal hasil dan kurva yang rata masih menjadi masalah utama pasar surat utang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Inflasi Kebijakan The Fed
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top