Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pagi Cerah, Harga Batu Bara Kembali Perkasa

Catatan pemerintah menunjukan bahwa realisasi ekspor batu bara baru menyentuh 247,52 juta ton atau setara 50,77 persen dari rencana ekspor tahun ini yakni 487,50 juta ton. 
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 09 November 2021  |  09:01 WIB
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020). ANTARA FOTO - Syifa Yulinnas
Alat berat beroperasi di kawasan penambangan batu bara Desa Sumber Batu, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Rabu (8/7/2020). ANTARA FOTO - Syifa Yulinnas

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara kembali perkasa di tengah tekanan kenaikan produksi yang dilakukan China sejak akhir Oktober 2021.

Bursa ICE Newcastle mencatat harga komoditas batu bara termal untuk kontrak November mencapai US$163 per metrik ton pada Senin (8/11/2021). Angka ini naik 7,60 poin dari penutupan perdagangan akhir pekan lalu. 

Kenaikan paling tinggi terjadi untuk kontrak Desember dengan peningkatan 10,40 poin menjadi US$164 per metrik ton. Angka ini melonjak 6,77 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yakni US$153,60 per metrik ton pada Jumat (5/11/2021). 

Sepanjang 2021, rerata harga komoditas ini mencapai US$147,69 per metrik ton dengan puncak tertinggi komoditas ini tercatat hingga US$272,50 per metrik ton pada 5 Oktober lalu. 

Peningkatan harga batu bara di pasar global disinyalir akibat besarnya permintaan komoditas ini menjelang musim dingin di negara belahan utara. Selain itu, proses pengapalan yang berjalan lambat diduga turut berkontribusi pada kenaikan harga ini. 

Kondisi tingginya permintaan dari China turut memicu harga batubara acuan (HBA) November mencetak rekor baru yakni US$215,63 per metrik ton.

Ketua Umum Ketua Umum Asosiasi Pemasok Batu Bara dan Energi Indonesia (Aspebindo) Anggawira menerangkan bahwa kenaikan ini turut disebabkan oleh harga batu bara di pasaran mencapai US$190 per metrik ton. 

Selain itu, gangguan pada proses pengantaran komoditas ke negara tujuan turut menjadi faktor utama kenaikan tersebut. Hal ini juga ditunjukan dari Mineral One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM. 

Catatan pemerintah menunjukan bahwa realisasi ekspor batu bara baru menyentuh 247,52 juta ton atau setara 50,77 persen dari rencana ekspor tahun ini yakni 487,50 juta ton. 

“[Permintaan musim dingin] sampai Desember. Kemungkinan naik tipis [bulan depan], tapi ini sudah tinggi banget karena transportasi sulit,” katanya kepada Bisnis, Senin (8/11/2021).

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi menjelaskan terdapat dua faktor turunan yang memengaruhi pergerakan HBA yaitu pasokan dan permintaan. 

Pada faktor turunan pasokan dipengaruhi oleh cuaca, teknis tambang, kebijakan negara pemasok, hingga teknis di rantai pasok seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

Sementara untuk faktor turunan permintaan dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro.

Nantinya, HBA bulan November ini akan dipergunakan pada penentuan harga batubara pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Vessel) selama satu bulan ke depan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china harga batu bara Krisis Energi
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top