Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja Manufaktur Membaik, Lapangan Kerja Diramal Bertambah

PMI Manufaktur Indonesia pada September 2021 tercatat sebesar 52,2.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 01 Oktober 2021  |  17:37 WIB
Aktivitas karyawan di salah satu pabrik di Jakarta, Jumat (20/9/2019). Bisnis - Arief Hermawan P
Aktivitas karyawan di salah satu pabrik di Jakarta, Jumat (20/9/2019). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menilai bahwa membaiknya indeks manajer pembelian atau PMI Manufaktur Indonesia menjadi 52,2 pada September 2021 berpotensi menambah ketersediaan lapangan kerja, seiring aktivitas industri yang kembali menggeliat.

Kepala BKF Febrio Kacaribu menjelaskan bahwa PMI Manufaktur Indonesia kembali berada di posisi ekspansif karena indeks berada di atas 50. Sebelumnya, indeks Juli 2021 di angka 40,1 dan Agustus 2021 di angka 43,7 membuat Indonesia masih berada di tingkat kontraksi.

Menurut Febrio, kenaikan indikator PMI yang cukup signifikan itu mengonfirmasi kinerja sektor manufaktur yang akan terus meningkatkan produksinya dalam beberapa waktu ke depan. Hal tersebut, menurutnya, dapat memengaruhi ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat.

"Seiring dengan perbaikan ini, pelaku manufaktur nasional akan kembali membuka lapangan kerja serta meningkatkan stoknya demi memenuhi peningkatan permintaan yang sedang terjadi sejak September 2021, pasca dilonggarkannya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat [PPKM] di sejumlah daerah," ujar Febrio pada Jumat (1/10/2021).

Dia pun meyakini ketersediaan lapangan kerja akan berkembang karena terdapat perbaikan indikator ekspor. Pada Agustus 2021, ekspor nonmigas tumbuh double digit, yakni 63,4 persen (year-on-year/YoY).

"Ruang pertumbuhan untuk ekspor produk-produk unggulan nasional masih sangat besar. Hal ini tercermin dari indikator subkomponen PMI, permintaan ekspor baru yang masih belum optimal karena belum meratanya pemulihan ekonomi dunia dan adanya hambatan pengiriman [shipping]," ujarnya.

Ekonom PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja menjelaskan bahwa kenaikan PMI Manufaktur pada bulan lalu tak lepas dari perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia yang secara umum melandai.

Pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) membuat aktivitas usaha dan belanja lebih menggeliat.

Menurut Enrico, industri melihat situasi itu sebagai peluang sehingga meyakini bahwa terdapat peluang untuk kembali memutar roda perekonomian. Industri pun merespons kondisi itu dengan menambah ketersediaan barang, agar produksi dapat memenuhi kebutuhan konsumsi beberapa waktu ke depan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur lapangan kerja bkf indeks manufaktur
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top