Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bank Dunia Tangguhkan Pencairan Dana Proyek ke Afghanistan. Kenapa?

Bank Dunia akan terus berkonsultasi secara erat dengan komunitas internasional dan mitra pembangunan.
Pasukan keamanan Afghanistan./Antara/Reuters
Pasukan keamanan Afghanistan./Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Dunia telah menghentikan pencairan dana untuk proyek-proyeknya di Afghanistan, dengan alasan kekhawatiran tentang dampak pemerintah Taliban terhadap prospek pembangunan, terutama bagi perempuan.

"Kami memantau dan menilai situasi dengan cermat sesuai dengan kebijakan dan prosedur internal kami,” kata juru bicara Bank Dunia, dilansir Bloomberg, Rabu (25/8/2021).

Dia melanjutkan, Bank Dunia akan terus berkonsultasi secara erat dengan komunitas internasional dan mitra pembangunan. Bersama para mitra, pemberi pinjaman itu berupaya agar tetap terlibat untuk mempertahankan hasil pembangunan yang diperoleh dengan susah payah di Afghanistan.

Bank Dunia telah memberikan komitmen lebih dari US$5,3 miliar untuk proyek-proyek pembangunan di negara itu sejak April 2002. Hingga Februari, Bank Dunia memiliki 12 proyek aktif yang hanya dimiliki oleh Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA) untuk negara-negara termiskin di dunia, dengan komitmen US$940 juta.

Bank tersebut memiliki 15 proyek lain bersama dengan Dana Perwalian Rekonstruksi Afghanistan yang didanai oleh donor yang dikelola oleh bank tersebut, dengan hampir US$1,2 miliar dana komitmen IDA.

Dana tersebut telah mengumpulkan hampir US$12,9 miliar dari 34 donor, menjadikannya kontributor terbesar untuk anggaran Afghanistan, kata Bank Dunia pada April.

Bank Dunia mengatakan dalam sebuah memo internal bahwa stafnya yang berbasis di Kabul dan keluarga dekat mereka telah dipindahkan dengan aman ke Islamabad, Pakistan.

Penangguhan pada pencairan dana adalah kemunduran terbaru untuk rezim baru di Afghanistan yang kekurangan uang tunai setelah AS membekukan akses ke lebih dari US$9 miliar aset.

Dana Moneter Internasional mengatakan pekan lalu bahwa pemerintah baru terputus dari penggunaan dana cadangan aset, beberapa hari sebelum negara itu menerima alokasi hampir US$500 juta.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Reni Lestari
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper