Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Volume Pengiriman Paket Saat PPKM Tak Sekencang PSBB

Meski masih naik, sejumlah perusahaan kurir menyatakan kenaikan pengiriman paket selama PPKM tak semassif saat PSBB.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 20 Agustus 2021  |  20:18 WIB
Volume Pengiriman Paket Saat PPKM Tak Sekencang PSBB
Karyawan pengiriman barang J&T memindahkan barang kiriman di Makassar, Sulawesi Selatan pekan lalu. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengatakan belum terkena imbas perang dagang yang digencarkan Presiden Donald Trump terhadap China. - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – PT Global Jet Express (J&T Express) memperkirakan pertumbuhan volume pengiriman barang selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat pada tahun ini tak akan semasif dibandingkan dengan periode Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahun lalu.

CEO J&T Express Robin Lo mengakui terjadi peningkatan permintaan pemgiriman selama PPKM Darurat. Sayangnya, realisasinya tak akan sebesar tahun lalu saat PSBB yang mampu tumbuh sebesar 30-40 persen dibandingkan periode pengiriman pada rata-rata hari normal.

Kinerja saat itu mirip dengan rata-rata pertumbuhan pada periode puncak yang mencapai 3 juta paket per hari.

Kondisi tersebut, kata dia, disebabkan oleh sejumlah faktor yang utamanya mengarah kepada penurunan daya beli masyarakat.

"Kalau tahun lalu PSBB tumbuhnya 30 persen samapi 40 persen, sampai saat ini PPKM mungkin cuma 20 persen saja. Karena pandemi berjalana cukup lama. Kondisi di Indonesia juga mengkhawatirkan banyak bisnis tradisional dan mal yang sempat nggak buka. Banyak karyawan nggak dapat gaji full berimbas kurangi tingkat konsumsi," ujarnya, Jumat (20/8/2021).

Robin juga memerinci perbedaan sejumlah sektor yang masih mendominasi pengiriman selama masa PPKM tahun ini adalah bahan pokok seperti makanan dan minuman dan barang konsumsi lainnya. Sementara untuk tahun lalu masih terdapat fasyen, kosmetik, dan sebagainya.

Sementara itu, Ninja Xpress mencatatkan adanya permintaan pengiriman lebih dari 15 juta paket selama masa PPKM Darurat (3 Agustus-25 Juli 2021).

CMO Ninja Xpress Andi Djoewarsa mengatakan lonjakan pengiriman paket juga terjadi pada masa PPKM Darurat. Adanya keterbatasan mobilitas membuat logistik kembali memegang peranan penting sebagai media pengantaran. 

"Ninja Xpress mencatatkan adanya permintaan pengiriman lebih dari 15 juta paket selama masa PPKM Darurat diberlakukan yang didominasi oleh kategori paket berukuran kecil," katanya.

Dia menjelaskan jenis paket kecil merupakan barangvyang berukuran maksimal 20x11x7cm yang biasanya berisi kosmetik, aksesoris fashion seperti baju, jam tangan, kacamata dan lain-lain. Selain didominasi paket pengiriman berukuran kecil, juga ada kategori jenis paket lainnya dibagi menjadi paket medium (30x20x12cm) dan paket besar (35x30x20).

Dalam pengiriman tersebut, Ninja Xpress memastikan memberikan pelayanan maksimal yang dibuktikan melalui success rate sebesar 98 persen untuk pengantaran ke seluruh Indonesia.

Pertumbuhan volume pengiriman paket telah terjadi sejak pandemi awal Maret tahun lalu saat penerapan pembatasan kegiatan, ada pergeseran perilaku konsumen dalam berbelanja yang lebih memilih online. Hal ini tentunya mempengaruhi adanya peningkatan volume permintaan untuk pengiriman barang.

Pada awal pandemi, Ninja Xpress mencatatkan kenaikan jumlah pengiriman hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan sebelum pandemi.

Sebaliknya, pada akhir semester I/2021, perusahaan mencatatkan adanya peningkatan kembali jumlah permintaan pengiriman sebesar lebih dari 20 persen dibandingkan sebelumnya dengan jumlah pengiriman lebih dari 400.000 paket per hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jasa kurir ninja xpress PPKM
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top