Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kuartal I 2021, Sektor Properti Catatkan Pertumbuhan 0,94 Persen

Real estat atau properti tumbuh 0,94 persen sepanjang 3 bulan pertama tahun ini ndibandingkan dengan periode yang sama tagun sebelumnya, menurut Badan Pusat Statistik pada Rabu (5/5/2021).
M. Syahran W. Lubis
M. Syahran W. Lubis - Bisnis.com 05 Mei 2021  |  12:22 WIB
Deretan propoerti Jakarta./Antara - Indrianto Eko Suwarso
Deretan propoerti Jakarta./Antara - Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan real estat termasuk sektor bisnis yang tumbuh sepanjang kuartal I/2021, tetapi pergudangan, atau kerap disebut sebagai subsektor properti logstik, jutsru terkontraksi.

Kepala BPS Suhariyanto pada Rabu (5/5/2021) mengungkapkan bahwa real estat termasuk di antara sektor-sektor yang sepanjang 3 bulan pertama tahun ini tumbuh positif bersama informasi dan komunikasi, perdagangan, pengadaan air, jasa kesehatan, pertanian, dan pengadaan listrik gas.

Pertumbuhan tertinggi dikontribusi oleh sektor informasi dan komunikasi yang mencapai pertumbuhan 8,72 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, real estat tumbuh 0,94 persen sepanjang 3 bulan pertama tahun ini yoy.

Sebaliknya, subsektor pergudangan atau properti logistik mengalami kontraksi sepanjang 3 bulan pertama 2021, berdasarkan data gabungan dengan transportasi, mencapai 13,12 persen, yang merupakan penurunan terbesar di antara semua sektor.

Namun, BPS tidak memerinci secara khusus berapa besar persentase penurunan subsektor pergudangan, tetapi di ruang lingkup pos yang lebih kecil digabungkan dengan jasa penunjang angkutan serta pos dan kurir terdapat penurunan 15,89 persen yoy.

Secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2021 terkontraksi baik secara tahunan dan kuartalan masing-masing -0,74 persen dan -0,96 persen.

Mengenai bisnis properti atau real estat, pemerintah memang telah mengeluarkan stimulus berupa pemangkasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Di sisi lain, Bank Indonesia mengeluarkan regulasi yang memungkinkan perbankan penerapan uang muka (down payment/DP) 0 persen meski dalam kenyataannya pencairan kredit dengan DP 0 persen itu sepenuhnya tergantung pada kebijakan bank masing-masing.

Bank Indonesia juga telah menekan suku bunga acuan dan mengeluarkan kebijakan yang mendorong agar perbankan pun ikut menurunkan bunga kredit pemilikan rumah (KPR).

Menurut catatan Bisnis.com, sepanjang pandemi Covid-19, kalangan developer memprioritaskan pengembangan proyek-proyek rumah tapak yang memang masih memiliki cukup besar terutama end user, meski juga tetap menjadi sasaran investasi dengan harapan harganya naik selepas pandemi teratasi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan pergudangan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top