Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Developer Sebut Kenaikan Harga Rumah Bukan untuk Produk Siap Huni

Kalangan pengembang memerkirakan kenaikan harga rumjah sebagai nhasilm riset Bank BTN terjadi pada hunian yang tengah dibangun, bukan yang siap huni. Sekarang pengembang bukan mencari profit, tetapi bagaimana bisnis properti kembali bergairah.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 27 April 2021  |  23:19 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan perumahan di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat./Bisnis - Abdurachman
Pekerja menyelesaikan pembangunan perumahan di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat./Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Harga rumah secara nasional meningkat 5,24 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) selama kuartal I/2021 sejalan dengan peningkatan permintaan hunian, menurut riset Housing Finance Center (HFC) milik PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Managing Director Business Development Sinar Mas Land Alim Gunadi mengatakan untuk kenaikan harga properti saat ini terjadi untuk produk baru, bukan produk siap huni.

"Mungkin terjadi pada produk baru bukan yang ready stock," ujarnya kepada Bisnis pada Selasa (27/4/2021).

Saat ini, pihaknya masih fokus untuk memanfaatkan stimulus pemerintah berupa insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kemudian uang muka (down payment/DP) 0 persen, dan tingkat suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang terjangkau untuk menarik minat pembelian properti.

Menurut Alim, pemulihan sektor properti masih memerlukan waktu paling tidak sampai kuartal IV tahun ini.

Sementara itu, Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan harga rumah saat ini yang dibeli end user tidak naik harga seiring dengan adanya program insentif PPN yang berlaku hingga Agustus mendatang.

"Saya tidak tahu sudut pandang apa yang digunakan BTN pada survei harga rumah yang naik. Saat ini di tengah insentif PPN, rumah [siap huni] yang diberikan ke konsumen tidak mengalami kenaikan harga," ungkapnya.

Namun, menurutnya, kenaikan harga rumah berpotensi terjadi pada rumah baru yang tengah dibangun, bukan produk siap huni yang bisa mendapatkan insentif PPN.

Kenaikan harga pada rumah yang tengah dibangun, lanjutnya, juga bisa karena harga sejumlah material bahan bangunan seperti besi dan baja ringan mengalami kenaikan. Kalau rumah non-ready stock, ucapnya, ada tren kenaikan harga untuk rumah yang belum dibangun karena harga material naik.

"Saya tidak yakin ada pengembang yang menaikkan harga saat ini untuk rumah ready stock, terlebih ada insentif PPN karena sekarang pengembang bukan mencari profit, tetapi bagaimana bisnis properti kembali bergairah yang berdampak pada turunannya," tuturnya.

Totok menambahkan saat ini rumah segmen kelas menengah dengan kisaran Rp600 juta hingga Rp1,5 miliar memiliki daya beli baik. Totok meyakini rumah segmen tersebut yang dapat menggerakkan sektor properti beserta sektor turunannya.

CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda menuturkan sektor properti akan mengalami pemulihan mulai semester kedua 2021. Kondisi saat ini merupakan waktu yang tepat untuk membeli bagi end user maupun investor.

Rumah tipe landed house dengan harga Rp600 juta hingga Rp1 miliar yang masih akan banyak diminati pada 2021.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bisnis properti perumahan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top