Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Konsumsi Listrik Diprediksi Turun, 15,5 GW Proyek Pembangkit Diundur?

Dalam draf RUPTL 2021—2030, asumsi pertumbuhan konsumsi listrik selama 10 tahun ke depan dipatok pada kisaran 4,9 persen lebih rendah daripada asumsi sebelumnya 6,9 persen.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 14 Januari 2021  |  07:09 WIB
Ilustrasi: Pekerja berkomunikasi dengan operator alat berat pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar Extension 1x315 MW di Desa Lontar, Tangerang, Banten, Jumat (29/3/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal
Ilustrasi: Pekerja berkomunikasi dengan operator alat berat pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar Extension 1x315 MW di Desa Lontar, Tangerang, Banten, Jumat (29/3/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA — Sebanyak 15,5 gigawatt rencana tambahan pembangkit listrik berpotensi dikeluarkan dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2021—2030 seiring dengan turunnya asumsi pertumbuhan konsumsi listrik akibat dampak pandemi Covid-19.

Saat ini, draf RUPTL 2021—2030 masih dibahas dan ditargetkan dapat selesai pada akhir Januari 2021. 

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rida Mulyana mengatakan bahwa dalam draf RUPTL 2021—2030, asumsi pertumbuhan konsumsi listrik selama 10 tahun ke depan dipatok pada kisaran 4,9 persen.

Angka ini turun dari asumsi awal pada RUPTL sebelumnya yang dipatok pada kisaran 6,4 persen. 

"Berkaca dari kasus pada 2020 akibat covid, pemulihan ekonomi seperti apa, tidak ada yang tahu kapan covid berakhir.  Kami bersepakat dengan PLN ambil sikap agak moderat dalam menetapkan pertumbuhan listrik 10 tahun ke depan mulai 2021 ini 4,9 persen. Yang tadi awalnya 6,4 persen," ujar Rida dalam konferensi pers virtual, Rabu (13/1/2021).

Akibat dampak pandemi Covid-19 ini, kata Rida, tertundanya sejumlah rencana penambahan pembangkit dan pun tak terhindarkan.

Setidaknya ada sekitar 15,5 GW rencana penambahan pembangkit dalam 10 tahun ke depan akan dikeluarkan dari RUPTL 2021—2030 atau mengalami pergeseran waktu beroperasi secara komersial.  Sebelumnya, dalam RUPTL 2019-2028 total rencana penambahan pembangkit mencapai 56,4 GW.

Pengurangan kapasitas pembangkit tersebut kemudian dialihkan pada pembangunan jaringan transmisi sehingga untuk memenuhi kebutuhan listrik tidak perlu menambah pembangkit baru.

Adapun dari 15,5 GW pembangkit yang berpotensi dimundurkan tersebut termasuk di dalamnya merupakan megaproyek 35.000 megawatt (MW).  Menurut Rida, kebanyakan proyek 35.000 MW yang dimundurkan merupakan proyek yang dikembangkan oleh PT PLN (Persero). 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembangkit listrik konsumsi listrik
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top