Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jack Ma 'Hilang', Saham Alibaba Rontok

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (5/1/2021), saham Alibaba Group Holding yang tercatat di bursa Hong Kong terpantau melemah 2,81 persen atau 6,4 poin ke level HK$221,4 per saham pada pukul 10.54 WIB.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  11:29 WIB
Alibaba - alibabagroup.com
Alibaba - alibabagroup.com

Bisnis.com, JAKARTA – Saham Alibaba Group Holding Ltd. terus merosot menyusul hilangnya pendiri perusahaan, Jack Ma, sejak Oktober tahun lalu.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (5/1/2021)saham Alibaba Group Holding yang tercatat di bursa Hong Kong terpantau melemah 2,81 persen atau 6,4 poin ke level HK$221,4 per saham pada pukul 10.54 WIB.

Sementara di bursa New York, saham Alibaba ditutup melemah 2,2 persen atau 4,94 poin ke level US$227,85 per saham pada akhir perdagangan Senin (4/1/2021).

Turunnya saham Alibaba tidak terlepas dari kabar hilangnya Jack Ma sang pendiri perusahaan setelah menkritik kebijakan Pemerintah China dalam sebuah pidato.

The Sun mengabarkan bahwa pria berusia 56 tahun tersebut sudah lama tidak tampil ke hadapan publik sejak Oktober 2020. Ia juga absen dari penjurian ajang pencarian bakat Africa’s Business Heroes.

Jack Ma sebelumnya menyampaikan pidato kontroversial di Shanghai pada 24 Oktober 2020. Dalam pidatonya, ia mengkritik regulasi China karena menghambat inovasi.

“Sistem keuangan saat ini adalah warisan dari Era Industri… Kita harus menyiapkan generasi baru dan generasi muda. Kita harus mereformasi sistem saat ini,” seperti dikutip dari Yahoo Finance, Senin (4/1/2021).

Business Insider melaporkan bahwa Ma juga menyebut bank-bank negara itu sebagai 'pegadaian'. “Hipotek dan jaminan adalah untuk pegadaian, tetapi jika kita bertindak ekstrem dengan hanya mengandalkan aset agunan, perusahaan tertentu akan menjaminkan semua aset mereka, dan tekanan [untuk mereka] sangat besar,” kata Ma.

Selain itu, Alibaba juga terganjal isu monopoli di China. Pada 24 Desember 2020, Otoritas China telah secara resmi membuka penyelidikan antimonopoli terhadap raksasa e-commerce Alibaba Group dan akan memanggil afiliasinya Ant Group untuk pertemuan tentang peraturan keuangan.

Tidak hanya itu, administrasi Xi Jingping tampaknya telah menyiapkan berbagai amunisi untuk menundukkan Alibaba dan perusahaan yang terafiliasi di bawahnya, termasuk Ant Group.

Akhir tahun lalu, otoritas perdagangan sekuritas China menegaskan akan meningkatkan hukuman atas penipuan penerbitan sekuritas dan pelanggaran pasar modal lainnya mulai tahun depan.

Dikutip dari Bloomberg, hukuman penjara maksimum akan meningkat menjadi 15 tahun dari lima tahun.

Hukuman ini ditegaskan di bawah amandemen undang-undang pidana yang disetujui dalam pertemuan Kongres Rakyat Nasional pada hari Sabtu lalu (26/12/2020).

Rencana ini diumumkan oleh regulator sekuritas China, yakni Komisi Pengaturan Sekuritas China, dalam sebuah pernyataan resmi. Amandemen tersebut akan berlaku mulai 1 Maret 2021.

China juga akan menjatuhkan hukuman penjara maksimal 10 tahun pada pengacara dan akuntan yang terlibat dalam penipuan penerbitan sekuritas dan transaksi.

Jelas, ini bukan kebetulan. Alibaba, perusahaan e-commerce yang dibangun oleh taipan China Jack Ma, mengeluarkan strategi penyelamatan. Alibaba Group Holding Ltd. mengumumkan akan meningkatkan program pembelian kembali saham yang diusulkan sebesar US$4 miliar menjadi US$10 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alibaba group jack ma
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top